Karawang, Lintaskarawang.com – Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI) menggelar panen raya padi rendah karbon dan ramah lingkungan di Karawang pada Senin (16/6/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Kampung Swasembada Pangan Lestari berbasis The Gade Integrated Farming (TGIF) yang mengedepankan pertanian berkelanjutan dan efisien.
Panen dilakukan oleh kelompok tani Saikhwan 2 yang menjadi mitra program TGIF di Karawang. Setelah pemanenan, dilakukan penimbangan hasil gabah kering panen pada Selasa (17/6/2025). Dari lahan seluas satu hektar, diperoleh hasil produksi sebesar 5 ton padi rendah karbon atau padi organik.
Ketua INTANI Karawang, H. Cecep Saepulloh, menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian tersebut. Ia menegaskan bahwa selain ramah lingkungan, metode budidaya ini terbukti mampu menekan biaya produksi hingga hampir 50 persen dibanding metode konvensional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Alhamdulillah, hasil panen kali ini sangat menggembirakan. Ini membuktikan bahwa pendekatan pertanian rendah karbon tidak hanya melindungi lingkungan, tapi juga sangat efisien secara ekonomi,” ungkap Cecep.
Lebih lanjut, Cecep menjelaskan bahwa efisiensi waktu tanam menjadi keunggulan lainnya dari metode ini. Padi berhasil dipanen hanya dalam waktu 88 hari, jauh lebih cepat dibanding sistem konvensional yang membutuhkan waktu sekitar 115 hari.
Budidaya padi rendah karbon ini juga tidak menggunakan pestisida kimia dan meminimalisir penggunaan pupuk anorganik, sehingga aman bagi lingkungan dan kesehatan konsumen. Dengan hasil panen yang stabil dan biaya produksi yang rendah, sistem ini diharapkan dapat menjadi solusi masa depan bagi petani Indonesia.
INTANI Karawang bersama para petani mitra berkomitmen untuk terus mengembangkan sistem pertanian ramah lingkungan berbasis teknologi dan kearifan lokal. Ke depan, program TGIF akan terus dikembangkan ke berbagai desa lain di Karawang dan sekitarnya.
“Ini momentum untuk kembali membangkitkan semangat bertani secara lestari, ramah lingkungan, dan berbasis komunitas. Harapannya, ketahanan pangan bisa dicapai secara mandiri oleh desa-desa di Karawang,” pungkas Cecep. (LK)













Tinggalkan Balasan