TERNAK WARGA DIMANGSA MACAN KOSTRAD TURUN TANGAN

- Penulis

Selasa, 26 September 2023 - 06:54

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karawang, Lintaskarawang.com – Di puncak musim kemarau dikala hutan Sanggabuana banyak mengalami kekeringan, ternak warga di lereng Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat kembali dimangsa karnivora besar pada 8 September 2023. Tidak tanggung-tanggung, kali ini domba yang menjadi korban sebanyak 5 ekor, diantaranya masih anakan. Lokasi konflik satwa liar kali ini terjadi di Kampung Cipaga, Desa Wargasetra, Kecamatan Tegalwaru, Karawang.

Informasi karnivora besar yang memangsa ternak domba warga ini pertama kali diterima oleh Sanggabuana Wildlife Ranger (SWR) dari Komandan Dataseman Pemeliharaan Daerah Latihan (Denharrahlat) Kostrad Mayor Inf. Wisnu Broto. Denharrahlat Kostrad yang bermarkas di lereng Gunung Sanggabuana mempunyai daerah latihan yang berada di Desa Mekarbuana. Warga yang ternaknya dimangsa karnivora waktu itu melapor ke Denharrahlat.

Komandan Denharrahlat Kostrad Mayor Inf. Wisnu Broto yang ditemui di lapangan mengatakan bahwa korban domba ini ada 5 ekor. “Empat ekor ditemukan dengan luka di leher dan beberapa bagian tubuhnya. Satu ekor indukan dan 3 ekor anakan. Untuk yang induk, selain luka di leher terdapat juga luka di bagian badan bagian belakang, dan bagian paha dan kaki hilang. Sedangkan 1 ekor lagi hilang. Kemungkinan dibawa pergi oleh karnivora yang memangsa ternak.” Tegas Wisnu yang baru menjabat sebagai Komandan Denharrahlat Kostrad Karawang selama 3 bulan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wisnu yang merupakan Perwira Menengah TNI AD ini mengatakan bahwa setelah mendapat laporan warga, pihak Denharrahlat Kostrad kemudian meneruskan informasi ini kepada Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) dan kemudian melakukan ground check di lapangan bersama-sama. “Kami menghimbau peternak yang mengalami korban kerugian dengan melakukan komunikasi untuk tidak bertindak menangkap atau membunuh karnivora atau macan tersebut. Informasi ini juga kami minta kepada Ranger SCF untuk diteruskan kepada pihak berwenang, dalam hal ini Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Macan tutul ini adalah satwa dilindungi sesuai Permen 106 Tahun 2018. Jadi secara hukum adalah milik negara, dan kita bertugas melindungi. Apalagi satwa ini berada di kawasan Pegunungan Sanggabuana yang menjadi daerah latihan kami.” Tegas Wisnu.

Selain untuk tidak memburu satwa liar dilindungi yang ada di Sanggabuana, Wisnu Broto juga akan memastikan tidak ada penebangan liar di Sanggabuana yang bisa merusak ekosistem dan habitat satwa Pegunungan Sanggabuana. Kostrad yang berada di Sanggabuana dan Jatiluhur akan memastikan Pegunungan Sanggabuana tetap asri.

Pasukan Denharrahlat Kostrad bersama Ranger SCF kemudian melakukan ground check di lapangan dan memasang kamera trap untuk memastikan karnivora yang memangsa ternak warga ini. Solihin Fuadi, Direktur Eksekutif SCF ditemui di lapangan ketika memasang kamera trap bersama dengan Mayor Inf. Wisnu Broto mengatakan bahwa tredn di Sanggabuana memang setiap puncak musim kemarau macan tutul jawa sering turun memangsa ternak warga yang berada di area penyangga.

Baca Juga:  Cabut IUP PT MPB, MKB Demonstrasi Di Depan Gedung Sate Bandung

“Ini sudah kejadian yang kesekian kalinya di Desa Wargasetra. Kebiasaan masyarakat memang membuat kandang di kebun atau ladang di pinggiran hutan. Kedepan kami akan meminta bantuan dari Pemkab atau BBKSDA Jabar untuk membuatkan kandang halau buat para peternak supaya ternaknya aman dari serangan karnivora besar.” Kata Solihin.

Muhtar, pemilik domba yang dimangsa satwa liar Sanggabuana ini mengatakan bahwa jumlah dombanya ada 8 ekor, dan yang dimangsa ada 5 ekor. “Sebelumnya kandang dombanya ambruk sudah lama, jadi domba saya iket di patok di lahan terbuka. Kira-kira pukul 3 pagi, ada suara mengeong seperti kucing besar, saya baru berani nyamperin setelah subuh, dan domba 4 ekor sudah mati luka-luka, satu hilang, dan sisa 3 ekor saja.” Terang Muhtar.

Solihin setelah melakukan ground check bersama pasukan Denharrahlat Kostrad tidak berani menyimpulkan satwa jenis apa yang memangsa ternak warga, karena warga baru melapor tanggal 20 September, padahal kejadiannya tanggal 8 September. “Jejak di lapangan sudah hilang, hanya menyisakan sisa-sisa darah yang sudah mengering. Jadi bisa kita simpulkan nanti setelah ada hasil dari kamera trap” Tambah Solihin.

Bernard T. Wahyu Wiryanta, fotografer dan peneliti satwa liar Sanggabuana yang ikut melakukan ground check bersama Denharrahlat Kostrad menduga satwa liar yang menyerang ternak ini adalah karnivora besar jenis macan tutul jawa (Panthera pardus melas). “Dari luka-luka yang ditinggalkan di ternak yang mati, luka di leher, dan ada bagian paha belakang yang hilang, ini adalah pola dan karakter serangan karnivora besar seperti macan tutul jawa. Mereka akan menerkam leher untuk mematikan mangsanya, kemudian pola makannya dimulai dari bagian dalam isi perut dan/atau kaki atau paha bagian belakang dulu. Bisa kemudian ditinggal dan diteruskan sampai habis di lain waktu, atau diangkut ke atas pohon.” Terang Bernard yang menjabat sebagai Dewan Pembina di SCF.

Bernard menambahkan, bahwa dari trend 3 tahun terakhir, kejadian konflik satwa liar di Sanggabuana terjadi pada puncak musim kemarau, dan untuk 3 tahun terakhir kejadian ternak dimangsa macan tutul ini karena induk macan tutul sedang mengasuh anak-anaknya dan mengajari anaknya berburu dan memangsa satwa buruan. “Kejadian sebelumnya, di lapangan kami temui jejak dari beberapa ekor individu dengan ukuran berbeda. Di Sinapeul, ada 1 jejak dengan ukuran besar, dan 2-3 jejak lain berukuran kecil. Ini adalah jejak induk macan tutul jawa dengan anak-anaknya. Biasanya untuk mengajari berburu, ketika susah mendapatkan mangsa satwa liar, induk ini akan menggunakan ternak warga sebagai prey atau mangsanya.” Tutup Bernard.

(Redaksi)

Berita Terkait

GMPI Rengasdengklok Selatan Pertanyakan Mekanisme Pembagian Undangan Beras Bapanas, Soroti Dugaan Keterlibatan Oknum BPD Berinisial DS
Banyak Kepala Desa Absen di Peringatan Hari Jadi Karawang ke-393 Tingkat Kecamatan Pedes, Hanya Empat yang Terlihat Hadir
Natala Sumedakap Cup 8 Resmi Bergulir, 64 Pasangan Ganda Ramaikan Turnamen Badminton HUT Karawang ke-393
Anggota KPPS Desa Sampalan Resmi Dilantik, Siap Kawal Pilkades 2026 Berlangsung Jujur, Aman, dan Kondusif,
Rescue Karang Taruna dan Warga Bengle Bersatu Bersihkan Lingkungan, Semangat Gotong Royong Warnai HUT Karawang ke-393
Normalisasi Irigasi KW 15 Dimulai, BBWS Citarum Pimpin Pengerukan Sedimentasi Demi 13 Ribu Hektare Sawah Karawang Utara.
Gebyar PATEN Majalaya Hadirkan Layanan Publik, Bantuan Sosial hingga Penyerahan Kunci Rutilahu
Job Fair Gratis untuk Warga Desil 1–3, Bupati Aep Pangkas Biaya Pencari Kerja di Karawang
Berita ini 0 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 05:14

Warga Mulyajaya Soroti Aset dan Dana Desa Rp190 Juta, Inspektorat Diminta Tegak Lurus

Rabu, 16 September 2026 - 02:32

Lebih Praktis! TANGKAR Resmi Jadi SuperApp untuk Semua Layanan Publik Karawang

Jumat, 11 September 2026 - 04:25

Sungai Perbatasan Cilamaya–Ciasem Dikeluhkan Berbau Menyengat, Warga Minta DLHK Turun Tangan

Jumat, 11 September 2026 - 04:12

Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Proyek Jalan Poros Tanjung Mekar Rp189 Juta Disorot Warga

Jumat, 11 September 2026 - 02:35

DPRD Karawang Resmi Dukung Draft RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

Kamis, 10 September 2026 - 12:14

Skandal KPR Fiktif Karawang Makin Melebar! Kejari Tetapkan Dua Bos Bank Himbara Jadi Tersangka, Total Kini 7 Orang

Kamis, 10 September 2026 - 08:22

Proyek Jalan di Puseurjaya Disorot, Muncul Dugaan Permintaan Uang Koordinasi hingga Jutaan Rupiah

Senin, 7 September 2026 - 12:27

63 Desa Terima LHP AMJ, Publik Karawang Menanti Dibukanya Temuan dan Tindak Lanjut

Berita Terbaru