REHABILITASI HABITAT OWA JAWA DI SANGGABUANA, AOP DAN SCF BANGUN RUMAH BIBIT

- Penulis

Rabu, 29 April 2026 - 09:11

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karawang | Lintaskarawang.com – Upaya pelestarian satwa dilindungi terus digencarkan di kawasan Pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat. Setelah melakukan pendataan komprehensif terkait populasi, sebaran, hingga preferensi pakan owa jawa (Hylobates moloch), kini langkah konkret dilakukan melalui pembangunan rumah bibit eks situ.

Program ini merupakan kolaborasi antara Astra Otoparts Group (AOP), Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), dan Perum Perhutani. Rumah bibit tersebut dibangun di kawasan Wana Wisata Puncak Sempur, Desa Cintalaksana, Kecamatan Tegalwaru, Karawang, dengan target produksi mencapai 20.000 bibit pohon per tahun.

Peresmian rumah bibit dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Bumi pada 22 April 2026. HCGS Division Head PT Astra Otoparts, Edwin Suhendra, menyampaikan bahwa fasilitas ini akan dikelola bersama sebagai bagian dari upaya rehabilitasi habitat owa jawa dan primata lainnya di Pegunungan Sanggabuana.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Langkah ini mungkin terlihat kecil, namun kami yakin akan membawa dampak besar bagi kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan Sanggabuana,” ujar Edwin dalam sambutannya.

Founder SCF, Bernard T. Wahyu Wiryanta, menjelaskan bahwa rumah bibit ini difokuskan untuk memproduksi tanaman kehutanan yang menjadi sumber pakan alami primata. Selain itu, program ini juga menyasar rehabilitasi mata air di Blok Dindingari seluas sekitar 60 hektare.

Menurut Bernard, inisiatif ini merupakan bagian dari program jangka panjang untuk memperbaiki koridor satwa yang terputus. Ia bahkan menyebut konsep tersebut sebagai “jalan tol primata” yang direncanakan membentang hingga 20 kilometer di kawasan Sanggabuana.

Baca Juga:  Hujan Lebat di Karawang Picu "Caah Deng-Deng" di Desa Mekar Buana

Berdasarkan data SCF, hingga saat ini tercatat sebanyak 483 jenis satwa liar hidup di kawasan Pegunungan Sanggabuana, dengan 50 di antaranya berstatus dilindungi. Kawasan ini juga menjadi habitat bagi lima jenis primata, yakni owa jawa, lutung sunda, surili, kukang jawa, dan monyet ekor panjang.

Blok Dindingari di Puncak Sempur menjadi salah satu titik penting karena menjadi habitat kelima primata tersebut. Namun, populasi pakan alami yang semakin berkurang menjadi tantangan serius bagi kelangsungan hidup mereka.

Karena itu, penanaman pohon pakan dan pohon tidur bagi primata menjadi fokus utama selain pembangunan koridor habitat. Kolaborasi antara AOP, SCF, dan Perhutani diharapkan mampu memperkuat upaya konservasi berbasis ekosistem, tidak hanya pada spesies tetapi juga pada habitatnya.

Di sisi lain, kawasan Pegunungan Sanggabuana juga tengah diusulkan menjadi kawasan konservasi berupa Taman Hutan Raya oleh Kementerian Kehutanan sejak awal April 2026. Usulan ini sendiri telah diajukan SCF sejak tahun 2021 sebagai langkah strategis menjaga keberlanjutan ekosistem hutan di wilayah tersebut.

(LK)

Berita Terkait

Disdikbud Karawang Harus Jelaskan Buku “Buatmu”: Ada Dugaan Pengarahan Pengadaan melalui Dana BOS?
Berkas Tak Ditandatangani Kepala Desa, Relim Justru Digugurkan: Ada Apa di Balik Proses Pencalonan BPD Desa Waluya?
Lawan Kekerasan Anak dan Perempuan, Polresta Karawang Perkuat Sinergi Lintas Sektor
BARJAS KARAWANG DISOROT! Dugaan Kongkalikong Tender Flyover Cikampek Harus Diusut
Satu Lolos di LPSE, Dua Diundang Klarifikasi: Dugaan Kejanggalan Tender Karawang Picu Sorotan Publik
Tangis Anak Bongkar Dugaan Asusila di Tirtajaya, Kasus Kini Ditangani Polres Karawang
Bapenda Karawang Perkuat Sinergi dengan Dunia Usaha, Sosialisasikan Opsen PKB dan BBNKB 2026 kepada 900 Peserta
Ketua Umum Garda Wisesa Nusantara Kutuk Keras Oknum Pembuang Limbah B3 di Irigasi Desa Telukbango: “Ini Kejahatan Lingkungan”
Berita ini 0 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 02:48

Berkas Tak Ditandatangani Kepala Desa, Relim Justru Digugurkan: Ada Apa di Balik Proses Pencalonan BPD Desa Waluya?

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:46

Lawan Kekerasan Anak dan Perempuan, Polresta Karawang Perkuat Sinergi Lintas Sektor

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:02

BARJAS KARAWANG DISOROT! Dugaan Kongkalikong Tender Flyover Cikampek Harus Diusut

Rabu, 29 Juli 2026 - 05:04

Satu Lolos di LPSE, Dua Diundang Klarifikasi: Dugaan Kejanggalan Tender Karawang Picu Sorotan Publik

Selasa, 28 Juli 2026 - 06:03

Tangis Anak Bongkar Dugaan Asusila di Tirtajaya, Kasus Kini Ditangani Polres Karawang

Senin, 27 Juli 2026 - 04:45

Bapenda Karawang Perkuat Sinergi dengan Dunia Usaha, Sosialisasikan Opsen PKB dan BBNKB 2026 kepada 900 Peserta

Jumat, 24 Juli 2026 - 03:48

Ketua Umum Garda Wisesa Nusantara Kutuk Keras Oknum Pembuang Limbah B3 di Irigasi Desa Telukbango: “Ini Kejahatan Lingkungan”

Kamis, 23 Juli 2026 - 13:15

Proyek Rehabilitasi SDN Mekarpohaci III Disorot, Dugaan Material Kayu Tak Sesuai Spesifikasi Picu Permintaan Evaluasi

Berita Terbaru