40 Hari Menjelajah Hutan Sanggabuana, Tim Ekspedisi AOP-SCF Laporkan 311 Ekor Individu Owa Jawa

- Penulis

Sabtu, 28 September 2024 - 13:49

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karawang, Lintaskarawang.com – Setelah 40 hari melakukan ekspedisi di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat, Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana yang dibentuk oleh Astra Otopart (AOP) Group bersama Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) berhasil mendata populasi dan sebaran Owa Jawa (Hylobates moloch). Sejak 31 Juli 2024, tim tersebut menjelajahi kawasan hutan seluas kurang lebih 16.500 hektar, yang telah diusulkan oleh Komisi IV DPR RI dan Menteri LHK untuk menjadi Taman Nasional baru di Jawa Barat.

Tim Ekspedisi ini terdiri dari berbagai elemen, seperti Sanggabuana Wildlife Ranger, mahasiswa dari beberapa kampus di Jawa Barat, Komunitas Baraya Sanggabuana, Perum Perhutani, serta TNI AD dari Denharrahlat Kostrad Sanggabuana. Dalam ekspedisi tersebut, tim menyisir kawasan hutan yang mencakup empat kabupaten, yakni Karawang, Purwakarta, Cianjur, dan Bogor. Mereka berhasil melacak jalur sepanjang 307.273 meter, mendata 107 kelompok Owa Jawa dengan total 311 individu.

Menurut Bernard T. Wahyu Wiryanta, pemimpin tim ekspedisi, keberhasilan ini menunjukkan populasi Owa Jawa di Pegunungan Sanggabuana berkembang biak dengan baik. “Sebagian besar kelompok yang ditemui terdapat individu muda, beberapa masih digendong induknya,” ujar Bernard. Selain itu, suara Owa Jawa terdengar di banyak bagian hutan, terutama saat pagi hari, memberikan bukti bahwa kawasan ini merupakan habitat penting bagi spesies endemik tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, Bernard juga mengungkapkan adanya ancaman bagi keberlangsungan hidup Owa Jawa di wilayah tersebut, seperti perburuan liar dan alih fungsi lahan yang mengurangi jumlah pohon pakan dan pohon tidur Owa Jawa. Di beberapa blok hutan, tim menemukan lahan yang telah berubah menjadi perkebunan kopi, yang mengisolasi beberapa kelompok Owa Jawa.

Baca Juga:  MIRIS, DITENGAH PROSES SANGGABUANA JADI KAWASAN KONSERVASI RATUSAN POHON DI SANGGABUANA DIBABAT JADI KEBUN KOPI

Edwin Suhendra, HCGS Division Group Astra Otopart, mengapresiasi keberhasilan ekspedisi ini. Menurutnya, pelestarian Owa Jawa di Pegunungan Sanggabuana sangat penting mengingat banyak unit usaha Astra Otoparts beroperasi di Karawang, yang dekat dengan kawasan tersebut. “Kami berharap program ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak sosial yang positif bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Purwakarta, BBKSDA Jawa Barat, Vitriana Y.M., S.Pi., M.P., juga menyambut baik hasil ekspedisi ini. Ia menekankan pentingnya menjaga kelestarian Pegunungan Sanggabuana sebagai habitat alami Owa Jawa agar satwa tersebut tidak terancam punah.

Selain mencatat populasi, tim ekspedisi juga memetakan persebaran, kepadatan populasi, preferensi pakan, serta kelompok umur Owa Jawa. Bernard menyatakan bahwa hasil ekspedisi ini akan menjadi acuan bagi SCF dan pemerintah dalam menentukan program konservasi ke depan, termasuk rehabilitasi hutan dan penanaman pohon pakan alami di area yang terisolasi akibat alih fungsi lahan.

Owa Jawa merupakan primata endemik yang dilindungi berdasarkan Permen LHK No. P.106/Tahun 2018, dengan populasi global yang diperkirakan kurang dari 4.000 ekor. Spesies ini masuk dalam kategori “Endangered” (EN) di IUCN Red List dan terdaftar dalam Appendiks I CITES. Sebelumnya, perburuan liar sempat menjadi ancaman bagi Owa Jawa di Sanggabuana, namun pada tahun 2022, pelaku perburuan berhasil diamankan oleh pihak berwenang. (Red)

 

Berita Terkait

Sungai Perbatasan Cilamaya–Ciasem Dikeluhkan Berbau Menyengat, Warga Minta DLHK Turun Tangan
Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Proyek Jalan Poros Tanjung Mekar Rp189 Juta Disorot Warga
DPRD Karawang Resmi Dukung Draft RUU Perlindungan Ketenagakerjaan
Skandal KPR Fiktif Karawang Makin Melebar! Kejari Tetapkan Dua Bos Bank Himbara Jadi Tersangka, Total Kini 7 Orang
Proyek Jalan di Puseurjaya Disorot, Muncul Dugaan Permintaan Uang Koordinasi hingga Jutaan Rupiah
63 Desa Terima LHP AMJ, Publik Karawang Menanti Dibukanya Temuan dan Tindak Lanjut
Dugaan Penyimpangan BUMDes dan BLT Dana Desa Mencuat di Desa Gombongsari, Departemen Umum Hankam 88 Laskar NKRI Siap Tempuh Jalur Hukum
MBG untuk Anak, Bukan untuk Ulat: Dugaan Temuan Ulat di SDN Ciptamargi 4 Harus Diusut
Berita ini 27 kali dibaca
Tag :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 04:25

Sungai Perbatasan Cilamaya–Ciasem Dikeluhkan Berbau Menyengat, Warga Minta DLHK Turun Tangan

Jumat, 11 September 2026 - 04:12

Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Proyek Jalan Poros Tanjung Mekar Rp189 Juta Disorot Warga

Jumat, 11 September 2026 - 02:35

DPRD Karawang Resmi Dukung Draft RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

Kamis, 10 September 2026 - 12:14

Skandal KPR Fiktif Karawang Makin Melebar! Kejari Tetapkan Dua Bos Bank Himbara Jadi Tersangka, Total Kini 7 Orang

Senin, 7 September 2026 - 12:27

63 Desa Terima LHP AMJ, Publik Karawang Menanti Dibukanya Temuan dan Tindak Lanjut

Jumat, 4 September 2026 - 06:26

Dugaan Penyimpangan BUMDes dan BLT Dana Desa Mencuat di Desa Gombongsari, Departemen Umum Hankam 88 Laskar NKRI Siap Tempuh Jalur Hukum

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:56

MBG untuk Anak, Bukan untuk Ulat: Dugaan Temuan Ulat di SDN Ciptamargi 4 Harus Diusut

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:22

Karawang Job Fair 2026 Dibuka, Tersedia Formasi Khusus Penyandang Disabilitas

Berita Terbaru