Target Pembangunan Rutilahu di Karawang Tahun 2024 Mencapai 1.904 Unit dengan Anggaran 89.297.600.000

lintaskarawang.com

lintaskarawang.com

Karawang, Lintaskarawang.com – Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Karawang menargetkan pembangunan sebanyak 1.904 unit Rutilahu pada tahun 2024 dengan alokasi anggaran sebesar 89.297.600.000. Hal ini disampaikan oleh Aip Aulia, Ketua Tim Rumah Swadaya PRKP.

Menurut Aulia, pada tahun 2023, telah berhasil dibangun 1.887 unit Rutilahu di seluruh desa Kabupaten Karawang. Rutilahu yang dibangun memiliki tiga tipe dengan ukuran berbeda, yaitu 5×6 meter persegi, 4,5 x 6,5 meter persegi, dan 7 x 4,5 meter persegi. Setiap desa ditargetkan memiliki 4 unit Rutilahu, namun ada juga desa yang mendapatkan pembangunan hingga 6 hingga 10 unit.

“Tahun 2023 Alhamdulillah kita sudah ada 1.887 unit tersebar di seluruh desa Kabupaten Karawang. Ada 3 tipe, yaitu 30 meter² atau 5×6, 4,5×6,5, dan 7×4,5. Kita mengacu untuk rumah sehat itu 30 meter². Tergantung dari ajuan tapi rata-rata kita bangun 4 Rutilahu di masing-masing desa, ada juga yang 6 dan 10. Kita mengacu pada RPJMD Bupati Karawang 2021 sampai 2026, harusnya kita setiap tahun itu 1.545 unit jadi ditambahkan karena percepatan akhirnya ditambahkan di tahun 2023,” ujarnya pada Rabu (28/2/2024).

Anggaran yang digunakan untuk pembangunan satu unit pada tahun 2023 sebesar 41.100.000, dengan total unit yang sudah terbangun sebanyak 1.887. Pada tahun 2024, anggaran per unit naik menjadi 46.900.000. Total anggaran pembangunan untuk tahun 2024 mencapai 89.297.600.000 dengan jumlah unit yang akan dibangun sebanyak 1.904.

“Selama tahun 2021 sampai 2023 sudah terbangun 5.506 unit dan tahun kemarin harga per unit 41.100.000. Tahun 2024 ada kenaikan harga menjadi 46.900.000. Anggaran tahun kemarin itu 77.550.700.000 untuk 1.887 unit. Tahun 2024 ini dibebankan 1.904 dengan anggaran 89.297.600.000. Target RPJMD 7.725 unit dari 2021 sampai 2026, masih ada sisa 315 unit yang belum tercover,” tambahnya.

Kriteria pemberian Rutilahu antara lain pemilik rumah masuk dalam kategori miskin, status kepemilikan rumah pribadi bukan milik orang lain, dan memiliki sertifikat yang jelas. Pembangunan akan dimulai pada awal Maret, dengan tim dari PRKP telah melakukan survei secara langsung ke lokasi yang akan dibangun Rutilahu.

“Tahun 2024 ini ditargetkan 1.904 unit karena menarik RPJMD 2026 ditarik di tahun ini. Ukurannya sama seperti tahun sebelumnya. Kalau di tahun ini kita belum memulai pembangunan, sekarang masih survey perencanaan jadi kita verifikasi rumah yang sudah diajukan. Ada beberapa kriteria, pertama pemiliknya itu masyarakat miskin, kedua rumahnya terlihat secara fisik tidak layak, ketiga memiliki sertifikat atau hak milik yang jelas. Jika diluar dari hak milik belum dapat diberikan Rutilahu. Mudah-mudahan awal Maret sudah mulai pembangunan tapi baru sebagian karena kita tidak ingin masyarakat ketika lebaran tidak mempunyai rumah,” imbuhnya.

Sebanyak 3.000 unit pengajuan proposal pembangunan Rutilahu telah masuk ke PRKP. Pembangunan akan diprioritaskan untuk rumah yang terkena musibah, meskipun data pengajuan dari tahun sebelumnya yang belum dibangun Rutilahu pun akan dilakukan pembangunan.

“Kalau data yang masuk sudah ada lebih dari 3000 unit, setiap tahun selalu ada data yang masuk dari desa dan kelurahan tapi tidak semuanya bisa terakomodir karena ada rumah yang rubuh akibat bencana dan menjadi prioritas. Dilihat dari data kesejahteraan sosial kita masih banyak rumah yang tidak layak huni tapi pembangunan Rutilahu berdasarkan proposal pengajuan dari kepala desa setempat. Pembangunan itu dari data tahun sebelumnya tapi kita akan konfirmasi ulang takutnya sudah dikerjakan oleh pemerintah provinsi,” lanjutnya.

Pada tahun ini, Rutilahu yang diberikan telah di plester pada semua bagian untuk mencegah kebocoran saat hujan deras. Lantai juga akan dilapisi dengan rabat beton.

“Kita menggunakan bata ringan, untuk tahun sekarang itu depan, kanan kiri, dan belakang sudah di plester. Lantai sudah dirabat beton jadi lebih layak, tahun kemarin hanya bagian depan saja yang di plester. Kalau masih belum di plester ketika hujan air akan masuk, dengan anggaran yang lebih tinggi kita memberikan rumah yang lebih layak. Sementara ini karena anggaran terbatas sudah dirabat beton, kalau ditambah keramik anggaran belum mencukupi. Kendala biasanya di cuaca,” tutupnya. (Aw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dilarang menyalin konten halaman lintaskarawang.com