Karawang | Lintaskarawang.com – Insiden kecelakaan maut yang melibatkan truk kontainer di Jalan Irigasi Bendasari, Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, pada Minggu (15/2) malam, terus menuai perhatian publik. Peristiwa tragis tersebut kini tidak lagi dipandang semata sebagai musibah lalu lintas, tetapi juga memunculkan desakan agar Pemerintah Daerah Karawang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang serta keberadaan gudang-gudang di wilayah tersebut.
Aktivis Karawang, Nurdin Syam yang akrab disapa Mr Kim dan juga dikenal sebagai CEO Lintas Karawang, menyampaikan pandangannya secara terbuka. Ia menegaskan bahwa dalam menyikapi insiden ini, publik tidak seharusnya terburu-buru memojokkan sopir maupun pihak pengarah parkir di lapangan tanpa melihat konteks operasional yang lebih luas.
Menurut Mr Kim, secara logika sederhana seorang sopir tidak mungkin dengan sengaja memilih jalur yang sulit dan berisiko tinggi tanpa adanya pertimbangan tertentu. Karena itu, ia menilai perlu didalami apakah sebelum kejadian terjadi komunikasi antara sopir dengan pihak gudang terkait teknis bongkar muat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau selama ini pola distribusinya dibongkar di pinggir jalan lalu dilangsir ke gudang, kenapa tiba-tiba kontainer mencoba masuk langsung? Diduga bisa saja ada komunikasi sebelumnya. Bahkan bukan tidak mungkin ada tawaran insentif apabila sopir mampu masuk langsung ke lokasi gudang tanpa harus bongkar di luar,” ungkapnya pada Selasa (17/2/2026).
Mr Kim menegaskan, pernyataan tersebut bukan untuk menuduh pihak tertentu, melainkan untuk mendorong investigasi yang objektif dan transparan. Ia meminta aparat penegak hukum serta pemerintah daerah tidak hanya melihat dari satu sisi, tetapi juga menelusuri kemungkinan adanya perubahan pola operasional yang berpotensi meningkatkan risiko keselamatan.
Lebih lanjut, ia mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin operasional dan kesesuaian tata ruang gudang-gudang di sekitar Jalan Irigasi Bendasari. Menurutnya, akses jalan irigasi pada dasarnya tidak dirancang untuk kendaraan bertonase besar, sehingga perlu ada peninjauan ulang terkait analisis dampak lalu lintas (andalalin) serta peruntukan kawasan.
“Jangan sampai kejadian ini hanya berhenti pada penetapan satu pihak sebagai yang paling bertanggung jawab. Sistemnya juga harus diperiksa. Kalau memang ada pola yang keliru dan dibiarkan bertahun-tahun, itu yang harus dibenahi,” tegasnya.
Ia berharap tragedi ini menjadi momentum pembenahan tata ruang dan pengawasan distribusi logistik di Karawang. Keselamatan masyarakat, kata dia, harus menjadi prioritas utama dibandingkan kepentingan percepatan bongkar muat maupun efisiensi biaya operasional semata. (LK)













Tinggalkan Balasan