Karawang | Lintaskarawang.com – Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat berpenghasilan rendah, justru menuai keluhan dari keluarga penerima manfaat di Dusun Sukajaya 2, RT 010/RW 002, Desa Kemiri, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, Jumat (10/07/2026).
Keluarga penerima manfaat, Ibu Nakem, mempertanyakan kualitas pekerjaan pembangunan rumah yang dinilai tidak sesuai dengan standar teknis. Mereka mengaku khawatir kondisi bangunan dapat membahayakan penghuni, terutama saat memasuki musim penghujan.
Berdasarkan hasil pemantauan di lokasi, keluarga menemukan sejumlah dugaan ketidaksesuaian dalam proses pembangunan. Di antaranya, pondasi disebut tidak digali terlebih dahulu dan hanya ditempel pada bagian dasar bangunan. Selain itu, area sekitar bangunan juga dinilai belum dibersihkan secara maksimal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya itu, keluarga juga menyoroti penggunaan material yang diduga tidak sesuai spesifikasi. Besi utama yang seharusnya menggunakan diameter 10 milimeter diduga diganti dengan besi berdiameter sekitar 7,57 milimeter. Jarak antar cincin besi yang semestinya sekitar 20 sentimeter juga disebut tidak terpenuhi karena terdapat kekurangan cincin pada setiap susunan tulangan.
Mereka juga mengungkapkan bahwa pekerjaan pondasi hanya menggunakan sekitar tiga sak semen. Di lokasi proyek pun. menurut keluarga, tidak ditemukan papan informasi proyek sebagaimana lazimnya pekerjaan yang bersumber dari program pemerintah. Hasil pengukuran menggunakan waterpass juga disebut menunjukkan posisi tiang yang tidak presisi.
Sebelumnya, pihak keluarga telah mempertanyakan kepada pekerja mengapa pondasi tidak digali. Kekhawatiran tersebut muncul karena kondisi tanah dinilai berpotensi mengalami penurunan saat musim hujan.
Dalam bahasa Sunda, keluarga Ibu Nakem menyampaikan kegelisahannya.
“Geuningan henteu digali, cuma ditempel doang. Kumaha lamun pas datang usum hujan, kan bahaya. Ema mah heran, jaman ayeuna masa ngawangun imah teu digali heula.” Ujarnya.
Senada dengan Hal Tersebut Keluhan serupa juga disampaikan Ari Suheri, saudara Ibu Nakem. la mengaku kecewa melihat proses pembangunan yang menurutnya tidak sesuai harapan.
“Bapa oge pas ningali asa janggal. Geuningan henteu digali. Kumaha lamun semisal ngaguling pas kahujanan, taneuhna rembes terus rubuh. Kecewa pisan urang mah. Kuduna program ieu bermanfaat keur masyarakat, malah jadi kieu.”Ujarnya Dengan Nada Tegas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana pembangunan, pemerintah desa maupun instansi terkait mengenai dugaan ketidaksesuaian spesifikasi pekerjaan tersebut.(Apihkasur)













Tinggalkan Balasan