Karawang, Lintaskarawang.com – Polemik seputar penggunaan anggaran pemeliharaan taman di Karawang kembali mencuat ke permukaan. Sorotan publik mengarah pada penggunaan bahan seperti sekam dan kompos, serta nilai anggaran yang disebut-sebut mencapai Rp 781 juta. Menanggapi hal tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati (DLHK) Karawang memastikan seluruh proses telah dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab.
Kepala Bidang Pertamanan DLHK Karawang, Dede Pramiadi, menjelaskan bahwa angka Rp 781 juta yang ramai dibicarakan merupakan *pagu anggaran, bukan nilai kontrak pelaksanaan yang sebenarnya.
Itu adalah pagu anggaran. Nilai riil pelaksanaan di lapangan justru lebih rendah, yakni sekitar **Rp 625 juta. Dan itu bisa dilihat langsung di papan proyek, tegas Dede saat diwawancarai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rincian Kegiatan dan Penggunaan Sekam
Anggaran tersebut mencakup serangkaian kegiatan pemuliaan tanah dan penghijauan taman kota, antara lain:
Pembersihan rumput hingga ke akar
Penggemburan tanah
Pemupukan dengan campuran sekam, kompos, dan pupuk kandang
Penanaman tanaman hias
Dede menjelaskan, penggunaan sekam menjadi bagian penting dalam proses perbaikan unsur hara tanah. DLHK mencampurkan sekam bakar, pupuk kandang, dan kompos ke dalam tanah sebagai upaya menyehatkan kembali media tanam.
Sekam itu bukan pemborosan. Ia bagian penting dari proses pemulihan unsur hara tanah. Kami mencampurkannya dengan kompos, sekam bakar, dan pupuk kandang, lalu digemburkan langsung bersama tanah agar unsur hara terserap maksimal,” ujarnya.
DLHK mencatat bahwa volume sekam yang digunakan mencapai 284 meter kubik atau sekitar 35,5 ton, berdasarkan konversi berat jenis sekam sebesar 1 m³ = 125 kg.
Untuk mencegah sekam beterbangan dan mempercepat penyerapan, proses penggemburan dilakukan bersamaan dengan penyiraman. Menyikapi keluhan masyarakat terkait sebaran sekam di lapangan, DLHK juga telah mengambil langkah teknis.
Mulai besok, hamparan sekam akan ditutup menggunakan jaring paranet agar tidak terbawa angin,” kata Dede.
31.000 Bibit Tanaman Hias Ditaman di Median Jalan
Selain kegiatan pemupukan, proyek ini juga mencakup penanaman sekitar 31.000 polybag bibit tanaman hias di berbagai taman kota dan median jalan. Jenis tanaman yang digunakan antara lain:
Pandan Afrika Kuning
Wera Merah (Bunga Sepatu)
Wera Tricolor
Heliconia Orange
Heliconia Golden Torch
Alamanda Rambat
Program ini merupakan bagian dari upaya penghijauan dan peningkatan estetika lingkungan kota Karawang.
DLHK Buka Ruang Dialog Publik
DLHK menegaskan bahwa seluruh tahapan proyek terdokumentasi dengan baik dan terbuka untuk publik, sebagai bagian dari komitmen terhadap prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Kami ingin agar taman-taman di Karawang tetap hijau dan asri. Perawatannya harus rutin. Tahun lalu program ini juga sudah dilakukan, dan hasilnya sangat positif,” ujar Dede.
Ia juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga keasrian taman, bukan justru merusaknya.
Kalau tanah subur, tanaman sehat, kota pun jadi lebih sejuk. Tapi semua ini tidak akan berarti tanpa dukungan masyarakat,” katanya.
Menutup pernyataannya, Dede menekankan pentingnya kepercayaan publik dalam setiap program pemerintah.
Yang kami pertaruhkan bukan hanya sekam atau anggaran. Yang paling penting adalah kepercayaan publik. Dan kepercayaan itu hanya bisa dibangun lewat keterbukaan, data, dan kerja nyata,” pungkasnya.
(Ripai)













Tinggalkan Balasan