Menggugat “Diktator Administratif Saatnya Kebijakan Kebudayaan Berpihak pada Seniman, Bukan Sekadar Kertas

- Penulis

Minggu, 19 Juli 2026 - 12:53

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KARAWANG | Lintaskarawang.com – Perdebatan mengenai distribusi Pokok Pikiran (Pokir) DPRD kembali menyentuh titik krusial. Cucu Hidayat, seorang pegiat seni asal Karawang, secara tegas menggugat kaku-nya regulasi administratif yang selama ini menjadi tembok penghalang bagi seniman akar rumput untuk mengakses bantuan negara, Minggu (19/07/2026).

Selama ini, aturan baku seperti Permendagri No. 86 Tahun 2017 kerap dijadikan tameng oleh pemangku kebijakan untuk menolak aspirasi seniman yang belum memiliki badan hukum (Yayasan/Perkumpulan). Namun, bagi Kang Cucu, penggunaan regulasi secara kaku tanpa melihat realitas di lapangan adalah bentuk kegagalan negara dalam mengayomi pelaku budaya.

“Kita tidak sedang memprotes keberadaan aturan, tetapi kita sedang menggugat cara aturan itu ‘mematikan’ kehidupan seniman. Ketika syarat legalitas menjadi satu-satunya pintu masuk, maka negara secara tidak langsung sedang melakukan diskriminasi terhadap seniman tradisional dan mereka yang hidup dari dedikasi murni,” ujar Kang Cucu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mempertanyakan logika birokrasi yang memaksakan standar korporasi kepada seniman yang kesehariannya bahkan harus berjuang keras hanya untuk bertahan hidup. Baginya, jika sebuah regulasi justru membuat bantuan tidak sampai ke target yang paling membutuhkan, maka regulasi tersebut telah kehilangan ruh keadilannya.

Cucu Hidayat menekankan bahwa kebijakan publik tidak boleh bersifat statis. Ia menuntut para pengambil kebijakan untuk berani melakukan terobosan atau diskresi kebijakan

Baca Juga:  PSI Karawang Terus Tebar Kebaikan, Salurkan Bantuan Bola untuk MI Attohiriyah Purwadana

“Administrasi adalah pelayan seni, bukan tuan atas seni. Jika kita sepakat bahwa kebudayaan adalah jiwa bangsa, mengapa kita takut untuk memberikan relaksasi atau pendampingan bagi seniman yang secara faktual berkarya namun terkendala surat-menyurat? Ada celah hukum dan ruang bagi pemerintah untuk melakukan terobosan jika memang ada *political will* (kemauan politik) untuk melindungi seniman akar rumput,” tegasnya.

Kang Cucu tidak hanya sekadar mengkritik, ia menawarkan transformasi pola pikir bagi DPRD dan Pemerintah Kabupaten Karawang. Ia mendesak agar verifikasi penerima bantuan tidak lagi bertumpu pada “kelengkapan tumpukan berkas,” melainkan pada verifikasi faktual di lapangan.

“Jangan biarkan birokrasi menjadi alasan untuk membiarkan seniman lokal mati perlahan. Jika aturannya mempersulit mereka yang seharusnya dibantu, maka aturannya yang harus kita perbaiki—bukan senimannya yang dipaksa menyerah pada keadaan,” lanjutnya.

Narasi ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa kebijakan kebudayaan haruslah bersifat inklusif. Seniman yang mengabdikan hidupnya di jalanan, di panggung-panggung kecil, maupun di komunitas-komunitas informal, adalah aset yang harus dirawat, bukan dibatasi oleh tembok-tembok birokrasi yang eksklusif.

“Saya mengajak para pengambil kebijakan untuk melihat lebih jauh. Jangan hanya melayani mereka yang sudah pintar mengurus administrasi, tapi jemputlah mereka yang sedang menjaga napas budaya kita dengan keringat dan dedikasi,” pungkas Kang Cucu.

Penulis : Wahid

Berita Terkait

Perlunya Melibatkan Pers dalam Tim Pembangunan Daerah, Ini Dasarnya..
Menangis Minta Dipulangkan dari Qatar, Rena Asal Karawang Mengaku Diminta Bayar Rp50 Juta
Cegah Luapan Air ke Permukiman, RT dan Warga Warudoyong Selatan Gelar Kerja Bakti
Bukan Sekadar Klarifikasi! 234 SC Minta Dugaan Insiden Kimia Pindo Deli II Diusut Tuntas
Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Karawang: Kebocoran Gas Berulang di PT Pindo Deli 2, KOALISI ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL KARAWANG Tuntut Pencabutan Izin Produksi unit caustic soda plant pt pindo deli 2
Dua Pekerjaan SAB Perum Griya Indah Ciampel Disorot, Warga Pertanyakan Anggaran Rp221 Juta
Penampungan Oli di Waringinjaya Disorot, Air Kali Menghitam hingga Warga Keluhkan Bau Menyengat
Keren! Produk Kreatif Karawang Tembus Nigeria, Inovasi Olah Limbah Industri Dilirik Menteri Ekraf
Berita ini 0 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 04:32

Ketua DPRD Karawang Hadiri Helaran Budaya “Karawang dari Masa ke Masa” Hari Jadi ke-393

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:29

Eratkan Silaturahmi, Kepala Desa Gebangjaya Akan Sajikan Hiburan Beragam di Acara Tasyakuran Khitanan Putranya

Selasa, 16 Juni 2026 - 01:45

Bupati Aep: Tahun Baru Islam Momentum Mempererat Persatuan dan Kepedulian Sosial

Minggu, 10 Mei 2026 - 04:04

Aep Syaepuloh Bahagia Ikuti Kirab Mahkota Binokasih, Tunggangi Kuda dan Sapa Ribuan Warga Karawang

Minggu, 10 Mei 2026 - 03:48

Karawang Bergemuruh, Ribuan Warga Sambut Kirab Mahkota Binokasih hingga Larut Malam

Sabtu, 9 Mei 2026 - 15:20

Aep-KDM Tampil Berdampingan di Kirab Binokasih, Ribuan Warga Karawang Histeris

Jumat, 8 Mei 2026 - 10:26

Karawang Jadi Tuan Rumah Kirab Budaya Tatar Sunda, Polres Siaga Amankan Jalur dan Antisipasi Macet

Senin, 4 Mei 2026 - 14:47

Ribuan Warga Padati Pendopo Bojong Tugu, Hajat Bumi Babarit Berlangsung Semarak

Berita Terbaru