Karawang, Lintaskarawang.com – Korban meninggal dunia pada saat Diklatsar (Pendidikan Latihan Dasar) Mapala Unisma Bekasi di sekitar Tanjakan Dua Jam jalur pendakian ke Puncak Gunung Sanggabuana sebelum meninggal sempat kesurupan. Informasi ini didapat dari Norman, warga Mekarbuana yang juga anggota komunitas Baraya Sanggabuana yang sedang mendampingi kegiatan penelitian Kelompok Studi SURILI Institut Pertanian Bogor (IPB) selama 20 hari.
Menurut Norman, pada saat dirinya dan anggota Sanggabuana Wildlife Ranger dari Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) sedang melakukan penelitian, dirinya bersama para Ranger dan Mahasiswa IPB ikut membantu menolong dan mengevakuasi korban. Menurut informasi dari Norman, dari para teman korban, sebelum pingsan dan meninggal dunia korban terlebih dahulu kesurupan dan dalam kondisi kesurupan berusaha menyerang senior yang menjadi panitia Diklastsar dengan batu.
“Informasinya, sebelum kesurupan sempat ditegur oleh panitia diklat, mungkin dimarahin, kemudian kesurupan, dan pingsan. Lalu ada anggota panitia yang turun ke kampung untuk minta bantuan orang yang bisa menyembuhkan kesurupan. Padahal kita, para Ranger dan tim dari IPB ada di Pancuran Kejayaan, jalur pendakian. Mereka tidak info ke kita.” Terang Norman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Baru pada saat mereka naik lagi, didampingi oleh orang tua Norman yang warga asli Mekarbuana, Norman, para Ranger dan Tim Mahasiswa IPB ikut naik untuk memberikan pertolongan. Ketika memeriksa bawaan, Norman sempat melihat ada bekal nasi dan makanan dari korban yang masih utuh. Norman sempat memastikan ke teman-teman korban, dan dibenarkan bahwa bekal nasi dan makanan ini milik korban.
Menurut Komarudin, dugaan sementara kemungkinan bukan kesurupan tetapi hipotermia. Ini diperkuat dengan kesaksian Norman terkait bekal yang masih utuh. “Biasanya dari pagi kegiatan diforsir, belum makan, kedinginan, ditambah mungkin emosi tidak stabil, dan berada di ketinggian 1000 m dpl, kemungkinan hipotermia. Apalagi gejala kesurupan dan hipotermia kan mirip sekali.” Ujar Koko.
Hipotermia sendiri adalah gejala penyakit yang sering menyerang para pendaki gunung berupa penurunan suhu tubuh, atau badan kehilangan kemampuan untuk mempertahankan suhu badannya ketika berada di daerah dingin. Gejala hipotermia akan semakin parah ketika korban sebelum melakukan kegiatan belum mendapat asupan makanan, dan dalam kondisi tenaga terkuras.
Menurut Norman, ketika sampai diatas, Komarudin sempat memeriksa korban yang sudah terbujur kaku ditutup dengan raincoat. Komarudin kemudian meminta Norman untuk kembali mengecek kondisi korban. Norman yang memeriksa korban, tidak mendapati denyut nadi, dan ketika menggeser tangan, sudah dingin dan kaku. Sementara ketiga teman korban yang ada di lokasi dalam kondisi syok dan diam.
Setalah senior yang naik kembali ke lokasi korban, memastikan tidak ada tenaga medis dan/atau petugas dari Kepolisian yang naik, maka diputuskan atas persetujuan panitia untuk membawa korban turun ke kampung dengan terlebih dahulu membuat tandu. Norman dan Tim Ranger membuat tandu dengan memanfaatkan kayu dari hutan.
Usaha untuk menurunkan korban ini dilakukan dengan cara menandu secara bergantian oleh Tim Ekspedisi SCF dan IPB, dan baru sampai di perkampungan pada pukul 02.00 dini hari. “DI lokasi kejadian sendiri hanya ada 6 siswa Diklatsar dan 3 panitia dari seniornya. Panitia di lokasi pun terdiri dari 2 perempouan dan 1 laki-laki.” Jelas Koko.
Sementara itu, menurut laporan dari Polsek Tegalwaru dan Perum Perhutani BKPH Pangkalan, pihaknya tidak menerima surat pemberitahuan atau perizinan terkait kegiatan Diklatsar yang menurut info dilakukan dari sejak 22 Desember 2024 ini. Menurut info dari Karyana-Asper BKPH Pangkalan, yang sudah melaporkan kegiatan dan perizinan ke Perum Perhutani, Polsek Tegalwaru, Koramil Pangkalan, Kecamatan dan Desa hanya kegiatan Ekspedisi Kehati dari IPB dari 18 Desember 2024 – 3 Januari 2025 yang didampingi di lapangan oleh Sanggabuana Wildlife Ranger dari SCF.













Tinggalkan Balasan