Oleh: CEO Lintaskarawang.com (Mr Kim)
Kasus keracunan makanan yang terjadi di salah satu sekolah di Bandung menjadi alarm keras bagi pemerintah, khususnya pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG). Apa yang seharusnya menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan anak bangsa, kini justru berubah menjadi sumber ketakutan dan ketidakpercayaan masyarakat.
Program MBG memang lahir dari semangat mulia: memastikan anak-anak Indonesia, terutama dari keluarga kurang mampu, mendapatkan asupan gizi seimbang setiap hari di sekolah. Namun, niat baik tidak akan pernah cukup tanpa sistem pengawasan yang kuat dan pelaksanaan yang profesional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fakta bahwa ada anak-anak yang keracunan akibat makanan dari program MBG menandakan adanya kelalaian struktural. Baik di sisi penyedia katering, pengawasan distribusi, maupun tanggung jawab dinas terkait. Apalagi ketika dampaknya kini meluas orang tua di berbagai daerah, termasuk Karawang, menjadi waswas anaknya menyentuh makanan MBG.
Akibat dari rasa takut ini, ribuan porsi makanan berpotensi menjadi sampah dan mubazir. Ironisnya, dana besar yang seharusnya memberi manfaat bagi kesehatan anak malah terbuang sia-sia. Publik pun wajar mempertanyakan, apakah program ini dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, atau sekadar memenuhi target politik dan pencitraan semata?
Kita perlu ingat, makanan bukan sekadar proyek. Makanan adalah tanggung jawab moral, karena yang menjadi korbannya adalah anak-anak generasi penerus bangsa. Jika dalam satu kasus saja terjadi kelalaian hingga menyebabkan keracunan, maka sudah sepatutnya pemerintah berhenti sejenak untuk mengevaluasi total sistem pelaksanaan MBG.
Transparansi penyedia, pengawasan oleh dinas kesehatan, hingga keterlibatan sekolah dalam memastikan kualitas makanan harus menjadi prioritas. Jangan biarkan MBG kehilangan makna dan kepercayaan publik hanya karena kelalaian segelintir pihak.
Jika tak segera diperbaiki, program yang seharusnya membanggakan ini akan berubah menjadi simbol kegagalan manajemen publik sebuah contoh nyata bagaimana niat baik tanpa kontrol justru membawa mudarat lebih besar daripada manfaatnya.













Tinggalkan Balasan