Karawang, Lintaskarawang.com – Enam bulan pasca dimulainya Sanggabuana Javan Leopard Survey (SJLS) di Pegunungan Sanggabuana, ratusan foto dan video hasil kamera jebak (trap camera) berhasil dikumpulkan. Rekaman tersebut menampilkan keberadaan macan tutul dan macan kumbang (Panthera pardus melas). Yang mengejutkan, beberapa kamera merekam induk macan berjalan bersama dua anaknya.
Kamera jebak tersebut dipasang oleh Sanggabuana Wildlife Ranger yang berada di bawah naungan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF). Selain macan tutul, kamera juga banyak merekam satwa langka dilindungi lainnya.
Sebelumnya, KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc. melepas Tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa pada 18 Februari 2025. Tim terdiri dari prajurit Menlatpur Kostrad Sanggabuana, Sanggabuana Wildlife Ranger, serta Polhut Perum Perhutani. Mereka ditugaskan melakukan survei populasi dan preferensi pakan macan tutul jawa di Pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada Agustus 2025, tim yang diperkuat oleh personel Polsek Tegalwaru, Polres Karawang, melakukan pengambilan data sekaligus pemindahan kamera jebak. Puluhan kamera kemudian kembali dipasang di titik berbeda untuk melanjutkan pemantauan hingga November 2025.
Hasil separuh perjalanan SJLS ini menunjukkan capaian sesuai harapan. Ribuan foto dan video terkumpul, dengan ratusan di antaranya merekam sosok karnivora besar terakhir di Pulau Jawa. Bernard T. Wahyu Wiryanta, peneliti sekaligus fotografer satwa liar yang memimpin tim SJLS, menyebutkan bahwa 40 kamera yang disebar berhasil mengidentifikasi 19 individu macan tutul jawa.
“Dari hasil analisis pola totol dan ciri fisik lainnya, kami berhasil mendata 19 individu macan tutul jawa, sesuai harapan Jenderal Maruli saat melepas tim ekspedisi,” jelas Bernard.
Rinciannya, 13 individu dewasa dan 1 anak macan tutul bercorak tutul, serta 4 individu dewasa dan 1 anak macan kumbang (melanistik). Berdasarkan jenis kelamin, tercatat 11 betina dan 3 jantan macan tutul, serta 3 betina dan 2 jantan macan kumbang. Salah satu momen paling menggembirakan adalah rekaman induk macan kumbang bersama dua anaknya dengan pola warna berbeda: satu tutul dan satu kumbang.
Metode identifikasi dilakukan dengan menganalisis pola totol unik tiap individu, yang mirip dengan sidik jari manusia. Selain macan tutul, kamera juga merekam satwa liar lain seperti elang jawa, elang brontok, kucing hutan, kancil, kijang, musang biul, lingsang, ayam hutan, babi hutan, lutung jawa, surili, landak, trenggiling, hingga burung paok pancawarna.
“Data ini tidak hanya merekam satwa target, tetapi juga preferensi pakan serta potensi ancaman terhadap keanekaragaman hayati Sanggabuana. Hasilnya akan menjadi dasar program pelestarian ke depan,” tambah Bernard.
Sementara itu, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak menyambut gembira hasil survei tersebut. Menurutnya, kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen TNI AD dalam menjaga kelestarian alam melalui program unggulan Bersatu dengan Alam.
“Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita memiliki tanggung jawab besar menjaga keanekaragaman hayati demi kelangsungan generasi mendatang. TNI AD akan terus mendukung pelestarian hutan lindung,” tegas Maruli.
Melalui kerja sama TNI AD, SCF, dan pemangku kepentingan lainnya, hasil ekspedisi ini diharapkan mempercepat proses penetapan Pegunungan Sanggabuana sebagai kawasan konservasi. Hal ini sekaligus menegaskan peran TNI AD bukan hanya menjaga kedaulatan negara, tetapi juga melestarikan lingkungan bagi generasi mendatang. (LK)













Tinggalkan Balasan