Karawang, Lintaskarawang.com – Sayang seribu sayang, kawasan Monumen Bojong Tugu Rengasdengklok yang menyimpan nilai sejarah perjuangan bangsa kini terlihat kumuh dan tak terawat. Sampah berserakan di berbagai sudut area, mencemari keindahan pendopo dan lingkungan sekitarnya yang semestinya menjadi tempat yang bersih dan nyaman untuk dikunjungi masyarakat maupun wisatawan.
Pantauan di lapangan menunjukkan tumpukan sampah yang diduga berasal dari aktivitas para pedagang kaki lima di sekitar lokasi. Ironisnya, menurut pengakuan sejumlah pedagang, mereka setiap hari dikenai pungutan uang kebersihan sebesar Rp2.000 per orang.
“Setiap hari kami bayar untuk kebersihan, tapi kenyataannya sampah tetap menumpuk. Kami bingung, uang itu digunakan untuk apa,” ujar salah satu pedagang yang enggan disebut namanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga pun turut menyayangkan minimnya perhatian dari pihak berwenang. Padahal, lokasi monumen tersebut sangat dekat dengan Kantor Kecamatan Rengasdengklok, yang seharusnya bisa bertindak cepat dalam melakukan pengawasan dan penertiban.
“Ini kan lokasi bersejarah, tempat banyak orang luar Karawang datang berkunjung. Tapi malah dibiarkan seperti ini. Kesan kumuh ini mencoreng nama baik Rengasdengklok,” ujar Sarta, tokoh masyarakat yang akrab disapa Aa Betong, saat ditemui pada Jumat (13/6/2025).
Betong mendorong agar kawasan ini dikelola dengan baik sehingga tampak indah, aman, tertib, dan bersih. Ia menegaskan bahwa persoalan sampah hanyalah salah satu dari sekian banyak hal yang perlu diperhatikan.
“Intinya bukan hanya sampah, tapi juga pembangunan dan pengelolaan kawasan monumen ini harus menjadi perhatian bersama,” tambahnya.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan publik terkait transparansi dan tanggung jawab pihak pengelola kebersihan. Jika benar ada pungutan rutin, maka seharusnya terlihat pula aksi nyata dalam pengelolaan dan pengangkutan sampah, bukan sekadar formalitas tanpa realisasi.
Monumen Bojong Tugu merupakan salah satu situs penting yang menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun kondisi terkini sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Masyarakat berharap pemerintah bersama dinas terkait segera mengambil langkah konkret untuk menata ulang kawasan ini, serta memastikan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan pengunjung tetap terjaga dengan baik.
(D’Kasur)


















