MASYARAKAT LERENG SANGGABUANA MENJADIKAN SARANG ELANG JADI OBYEK WISATA

- Penulis

Minggu, 25 Februari 2024 - 04:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Elang Alap Jambul (Accipiter trivirgatus)

Elang Alap Jambul (Accipiter trivirgatus)

Karawang, Lintaskarawang.com – Sore itu, beberapa wisatawan bersembunyi dalam lindungan paranet dan jaring kamuflase. Beberapa memperhatikan layar dari kamera digitalnya. Bagus dan Wira yang merupakan kameramen dari Dehakims, tersenyum gembira ketika melihat layar kamera digitalnya yang memutar gambar induk burung jenis elang sedang menyuapi kedua anaknya dengan daging segar.

Jaring kamuflase ini dipakai oleh mereka untuk berlindung dari hujan dan panas sekaligus untuk bersembunyi dari satwa-satwa liar yang melintas supaya tidak terlihat dan tidak mengganggu. Dengan bersembunyi di lindungan kamuflase mereka bisa dengan leluasa mengamati perilaku satwa yang ada dengan nyaman, dan satwanya juga tidak merasa terganggu dengan keberadaan manusia.

Bagus dan Wira datang dari Jakarta ke salah satu kampung di lereng Pegunungan Sanggabuana untuk mengejar momen menarik ini setelah mendapat info dari Sanggabuana Wildlife Ranger. Kameramen channel Youtube Irfan Hakim ini rela menempuh perjalanan jauh dari Jakarta demi momen langka di Sanggabuana, untuk mengamati perilaku alami burung di habitat aslinya. Lokasi sarang berisi anak burung elang ini berada di sebuah kebun di pinggiran hutan di sebuah kampung di lereng Sanggabuana, Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dua hari berikutnya, Jean Benen presenter Jejak Petualang Trans 7 juga mendatangi lokasi yang sama untuk melakukan pengamatan atraksi menarik ini bersama tim Jejak Petualang Trans 7. Jean dan kru Jejak Petualang harus sabar menunggu sampai mendekati matahari tenggelam sampai induk pulang dan menyuapi dua anak elang yang menunggu seharian di sarang.

Jika dulu masyarakat di lereng Sanggabuana ada yang memburu burung, terutama anak-anak burung langka untuk dijual, sekarang mereka memburu untuk tujuan lain. Sarang burung yang berisi anak burung di sekitaran Sanggabuana sekarang dicari untuk dijadikan obyek wisata minat khusus.

Di salah satu desa di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta yang berada di lereng Pegunungan Sanggabuana, pada Jum’at, 23 Februari 2024, beberapa wisatawan minat khusus mendatangi kampung Cisaat untuk mekakukan wisata pengamatan burung atau birdwatching. Obyeknya adalah sarang burung elang jambul (Accipiter trivirgatus) atau elang alap jambul dan beberapa jenis burung lain.

Uniknya, sarang burung elang jambul ini berisi anak elang jambul yang baru berumur kira-kira satu bulan. Jadi wisatawan bisa menunggu dan mengamati induk elang jambul yang pulang dan membawa mangsanya untuk menyuapi anaknya. Sarang burung ini dijaga oleh masyarakat, terutama pemilik kebun sampai anak-anak elang ini bisa terbang bebas. Para wisatawan yang datang dan menikmati atraksi perilaku burung ini kemudian membayar donasi kepada masyarakat yang menjaga anak burung.

Baca Juga:  MENENGOK KINERJA KONSERVASI SCF DI SANGGABUANA

Komarudin dan Eka Marhadi dari Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) secara berkala mendatangi masyarakat di sekitaran kawasan Pegunungan Sanggabuana untuk mengedukasi masyarakat supaya menjaga sarang burung. Masyarakat yang biasa memburu anak-anak burung untuk dijual sekarang mengalihkan temuan sarang berisi anak burung untuk dijadikan obyek wisata minat khusus.

Anak burung yang biasa dijual Rp 100.000 dengan dijual sebagai obyek wisata minat khusus bisa mendatangkan penghasilan 10-20 kali lipat. Dan tentu saja, satwa-satwa yang ada menjadi lebih lestari dan populasinya bertambah banyak.

Selain ikut menikmati wisata minat khusus ini, para wisatawan juga bisa melakukan adopsi sarang di kawasan Pegunungan Sanggabuana. Bedanya, adopsi sarang ini tidak kemudian membawa pulang anak-anak burungnya, tetapi membiarkan sarang berisi anak burung dijaga masyarakat, dan mereke membayar donasi untuk masyarakat menjaga dan monitoring perkembangan anak-anak burung yang ada.

Mokhamad Arifin, Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kecamatan Sukasari yang juga Koordinator Mitra Ranger Purwakarta mengatakan bahwa peralihan masyarakat dalam berburu burung, dari yang sebelumnya berburu untuk dijual menjadi berburu untuk dimanfaatkan sebagai obyek wisata minat khusus ini merupakan peralihan yang positif. “Jadi satwanya terjaga dan populasi bertambah, dilain pihak masyarakat mendapat manfaat ekonomi yang lebih besar daripada memburu satwa untuk dijual.” Terang Arifin.

Arifin juga mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat Sukasari ini merupakan bagian dari upaya konservasi di Sanggabuana. “Sesuai dengan prinsip pengelolaan hutan yang baik, ekologi, sosial, dan ekonomi, bukan dibalik dengan menempatkan ekonomi di atas, tetapi lebih mengutamakan ekologinya, maka manfaat ekonomi akan mengikuti. Ini akan menjadi contoh untuk masyarakat yang lain, kalau menjaga alam maka alam akan bisa memberikan kehidupan kepada kita.” Tambah Arifin.

Arifin menambahkan dengan adanya jenis wisata baru ini, yaitu obyek wisata minat khusus berupa pengamatan satwa di habitat aslinya ini mampu mendorong gairah pariwisata di Sukasari. “Tapi memang akses ke Sukasari masih sedikit menjadi kendala, jadi kami harap kepada Pemkab atau pemprov untuk membantu memikirkan aksesibilitas ini supaya bisa meningkatkan perekonomian dari pariwisata di Sukasari.” Tutup Arifin. (Redaksi)

Berita Terkait

Sungai Perbatasan Cilamaya–Ciasem Dikeluhkan Berbau Menyengat, Warga Minta DLHK Turun Tangan
Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Proyek Jalan Poros Tanjung Mekar Rp189 Juta Disorot Warga
DPRD Karawang Resmi Dukung Draft RUU Perlindungan Ketenagakerjaan
Skandal KPR Fiktif Karawang Makin Melebar! Kejari Tetapkan Dua Bos Bank Himbara Jadi Tersangka, Total Kini 7 Orang
Proyek Jalan di Puseurjaya Disorot, Muncul Dugaan Permintaan Uang Koordinasi hingga Jutaan Rupiah
63 Desa Terima LHP AMJ, Publik Karawang Menanti Dibukanya Temuan dan Tindak Lanjut
Dugaan Penyimpangan BUMDes dan BLT Dana Desa Mencuat di Desa Gombongsari, Departemen Umum Hankam 88 Laskar NKRI Siap Tempuh Jalur Hukum
MBG untuk Anak, Bukan untuk Ulat: Dugaan Temuan Ulat di SDN Ciptamargi 4 Harus Diusut
Berita ini 2 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 04:25

Sungai Perbatasan Cilamaya–Ciasem Dikeluhkan Berbau Menyengat, Warga Minta DLHK Turun Tangan

Jumat, 11 September 2026 - 04:12

Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Proyek Jalan Poros Tanjung Mekar Rp189 Juta Disorot Warga

Kamis, 10 September 2026 - 12:14

Skandal KPR Fiktif Karawang Makin Melebar! Kejari Tetapkan Dua Bos Bank Himbara Jadi Tersangka, Total Kini 7 Orang

Kamis, 10 September 2026 - 08:22

Proyek Jalan di Puseurjaya Disorot, Muncul Dugaan Permintaan Uang Koordinasi hingga Jutaan Rupiah

Senin, 7 September 2026 - 12:27

63 Desa Terima LHP AMJ, Publik Karawang Menanti Dibukanya Temuan dan Tindak Lanjut

Jumat, 4 September 2026 - 06:26

Dugaan Penyimpangan BUMDes dan BLT Dana Desa Mencuat di Desa Gombongsari, Departemen Umum Hankam 88 Laskar NKRI Siap Tempuh Jalur Hukum

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:56

MBG untuk Anak, Bukan untuk Ulat: Dugaan Temuan Ulat di SDN Ciptamargi 4 Harus Diusut

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:22

Karawang Job Fair 2026 Dibuka, Tersedia Formasi Khusus Penyandang Disabilitas

Berita Terbaru