Karawang | Lintaskarawang.com – Di sebuah rumah sederhana di Dusun Salam I, Desa Karangjaya, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, puluhan warga tampak silih berganti datang sejak pagi hari. Mereka rela antre demi mendapatkan terapi pengobatan tradisional di “Tabib Karawang”, sebuah tempat terapi alternatif milik Abdurrahman Rohis atau yang akrab disapa Akang Abdol.
Bukan tanpa alasan tempat itu ramai didatangi pasien. Di balik berdirinya Tabib Karawang, tersimpan kisah perjuangan seorang anak yang ingin melihat kedua orang tuanya sembuh dari penyakit yang diderita.
Akang Abdol menceritakan, awal mula dirinya mendalami dunia terapi tradisional berangkat dari kondisi ayah dan ibunya yang sakit cukup parah. Sang ayah diketahui menderita diabetes hingga mengalami amputasi tangan, sementara ibunya mengalami sakit lambung kronis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dulu saya terus mencari guru terapi karena ingin membantu orang tua. Saya belajar ngurut Cimande sampai ke Banten atas arahan KH Asbun dari Bekasi,” ujarnya saat ditemui, Kamis (21/05/2026).
Perjalanan itu kemudian mempertemukannya dengan seorang guru terapi asal Karawang bernama Ki Galuh. Dari sosok itulah Akang Abdol mulai mendalami berbagai metode pengobatan tradisional secara serius.
Setelah merasa cukup belajar, ia mulai mencoba mengaplikasikan ilmu tersebut kepada kedua orang tuanya. Hasilnya di luar dugaan.
“Alhamdulillah seminggu diterapi, orang tua saya mulai bisa makan enak lagi, jalan-jalan lagi. Tetangga juga mulai banyak yang bertanya pengobatannya di mana,” katanya.
Dari mulut ke mulut, kabar mengenai terapi yang dilakukan Akang Abdol mulai menyebar ke masyarakat sekitar. Sejak saat itu pasien terus berdatangan hingga akhirnya ia mendirikan tempat praktik yang kini dikenal dengan nama Tabib Karawang.
Nama tersebut, kata dia, sebenarnya bukan pilihannya sendiri. Ide itu datang dari sang guru yang telah meninggal dunia.
“Saya sebenarnya tidak mau memakai nama Tabib Karawang. Tapi guru saya bilang nama itu bagus dan mudah dikenal masyarakat,” tuturnya.
Kini, Tabib Karawang menangani berbagai keluhan kesehatan seperti stroke, asam urat, lambung, jantung, diabetes, encok, rematik hingga lemah syahwat. Namun, ia mengaku tidak menerima penanganan untuk patah tulang dan benjolan tertentu.
Dalam praktiknya, Akang Abdol menggunakan berbagai metode terapi tradisional seperti akupuntur, bekam, terapi sendok, totok petir, gurah mata hingga gurah hidung.
Menariknya, pasien tidak dipatok biaya tertentu. Pengobatan dilakukan dengan sistem bayar seikhlasnya.
“Yang penting pasien ikhlas. Tapi untuk tindakan seperti bekam dan akupuntur memang harus dilakukan di tempat karena membutuhkan alat khusus,” jelasnya.
Meski pasien cukup banyak, Akang Abdol membatasi jam praktik hanya empat jam setiap hari, yakni mulai pukul 09.00 WIB hingga 13.00 WIB. Sementara pendaftaran dibuka sejak pukul 07.00 WIB. Praktik tutup setiap Kamis dan Jumat.
Sudah hampir satu tahun lebih Tabib Karawang berdiri. Berbagai atribut seperti plang dan bendera yang terpasang di lokasi, menurutnya, sebagian besar berasal dari pasien sebagai bentuk dukungan dan rasa terima kasih.
Bagi sebagian warga, tempat terapi itu bukan sekadar lokasi pengobatan alternatif. Di sana tersimpan kisah tentang perjuangan seorang anak yang tak ingin menyerah melihat kedua orang tuanya sakit, hingga akhirnya memilih membantu banyak orang melalui jalan pengobatan tradisional.
(Apih Kasur)













Tinggalkan Balasan