Karawang, Lintaskarawang.com – Banyak kisah pernikahan yang berakhir dengan perceraian, sering terdengar seseorang bangkit, belajar dari kegagalan, lalu menikah lagi dengan keyakinan bahwa ia sudah berubah.
Tapi di balik harapan baru itu, tak sedikit yang kembali menghadapi retakan yang terasa familiar, seakan naskah lama diputar ulang dengan pemain berbeda.
Hal tersebut mendapat perhatian dari seorang ulama konseling keagamaan, ustad Ahmad Efendi yang akrab di sapa ustad Pepen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Masalah itu jarang hanya soal pasangan, banyak yang membawa masa lalu tanpa disadari,” ujar ustad Pepen.
Dan menariknya, Al-Qur’an sudah lama membaca dinamika itu, pola yang mengikuti kita, bahkan ke pernikahan baru. Di dalam QS. Yusuf ayat 53, termuat sebuah pengakuan jujur tentang diri manusia.
“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”
Ayat ini bukan sekadar tentang keburukan, tetapi tentang bayang-bayang diri, luka masa kecil, mekanisme pertahanan, cara merespons konflik yang sering kita kira sudah hilang, padahal hanya tertidur.
“Banyak orang bilang, ‘Aku sudah berubah.’ tapi yang berubah sering hanya perilaku permukaan, bukan pola yang berakar,” tambahnya.
‘Aku Sudah Pilih yang Lebih Baik… Lalu Kenapa Hasilnya Sama?’
Fenomena ini banyak terjadi setelah perceraian, seseorang mengisi ulang hidupnya dengan standar baru mencari yang lebih dewasa, lebih sabar, lebih religius. Namun tanpa sadar, ia membawa masuk diri yang lama dengan cara mencinta yang sama, ketakutan yang sama, dan luka yang sama.
Di sinilah relevansi QS. Ar-Ra’d ayat 11 muncul: “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Sebuah pernikahan baru tidak otomatis menghadirkan versi baru dari diri kita, seperti kisah Zulaikha: Ketika cinta lahir dari kekosongan
Dalam kisah Zulaikha dan Yusuf, Al-Qur’an tak menempatkan tokohnya sebagai sosok antagonis, yang ditonjolkan justru dinamika manusiawi, cinta yang tumbuh bukan dari kelapangan jiwa, melainkan dari kekosongan yang belum terobati.
Para ulama membaca kisah itu sebagai gambaran bahwa cinta yang belum sembuh akan mencari objek baru, hanya untuk mengulang luka lama.
Tiga pertanyaan yang jarang diajarkan dalam Pra-Nikah, Ustad Pepen menyebut ada tiga pekerjaan rumah batin yang jarang disentuh ketika orang bersiap menikah:
1. Apakah aku mengenal diriku sendiri?
Banyak konflik lahir dari reaksi otomatis, bukan kesadaran diri.
2. Sudahkah aku menyembuhkan lukaku?
Luka yang tak disembuhkan tidak hilang setelah akad, ia hanya menunggu tekanan untuk muncul kembali.
3. Apakah aku mencintai karena Allah, atau karena butuh?
Ketergantungan emosional sering disalahpahami sebagai cinta, ketiganya menentukan arah hubungan jauh lebih kuat dibanding sekadar memilih pasangan yang lebih baik.
Ketika bicara perceraian, Al-Qur’an memulai Surah At-Talaq dengan sebuah nada yang tak menghakimi. Talak bukan diposisikan sebagai kegagalan personal, melainkan jalan keluar yang tetap menjaga martabat.
Ayat 1–3 mengingatkan bahwa batasan perceraian dibuat untuk melindungi, bukan memojokkan.
Bagi mereka yang pernah bercerai atau sedang berjuang mempertahankan rumah tangga, pesan Al-Qur’an tidak mengarah pada penghakiman, tetapi pada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Di balik tiap pernikahan yang kandas dan dibangun kembali, selalu ada usaha manusia untuk memperbaiki hidupnya, namun para ulama mengingatkan, pernikahan tidak dimulai dari cincin, akad, atau rumah baru. Ia dimulai dari jiwa yang siap menata ulang dirinya.
“perjalanan pernikahan dalam Islam bukan hanya tentang menemukan seseorang yang melengkapi hidup, melainkan dua jiwa yang saling menemani menuju Tuhan” pungkas ustad Pepen.
Penulis: Aan Ade Warino













Tinggalkan Balasan