Mengapa Banyak Orang Menikah Lagi tapi Mengulangi Kesalahan yang Sama? Jejak Pola yang Diam-Diam Dibaca Al-Qur’an

- Penulis

Selasa, 7 April 2026 - 07:24

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar: Ilustrasi AI

Gambar: Ilustrasi AI

Karawang, Lintaskarawang.com – Banyak kisah pernikahan yang berakhir dengan perceraian, sering terdengar seseorang bangkit, belajar dari kegagalan, lalu menikah lagi dengan keyakinan bahwa ia sudah berubah.

Tapi di balik harapan baru itu, tak sedikit yang kembali menghadapi retakan yang terasa familiar, seakan naskah lama diputar ulang dengan pemain berbeda.

Hal tersebut mendapat perhatian dari seorang ulama konseling keagamaan, ustad Ahmad Efendi yang akrab di sapa ustad Pepen.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Masalah itu jarang hanya soal pasangan, banyak yang membawa masa lalu tanpa disadari,” ujar ustad Pepen.

Dan menariknya, Al-Qur’an sudah lama membaca dinamika itu, pola yang mengikuti kita, bahkan ke pernikahan baru. Di dalam QS. Yusuf ayat 53, termuat sebuah pengakuan jujur tentang diri manusia.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”

Ayat ini bukan sekadar tentang keburukan, tetapi tentang bayang-bayang diri, luka masa kecil, mekanisme pertahanan, cara merespons konflik yang sering kita kira sudah hilang, padahal hanya tertidur.

“Banyak orang bilang, ‘Aku sudah berubah.’ tapi yang berubah sering hanya perilaku permukaan, bukan pola yang berakar,” tambahnya.

‘Aku Sudah Pilih yang Lebih Baik… Lalu Kenapa Hasilnya Sama?’

Fenomena ini banyak terjadi setelah perceraian, seseorang mengisi ulang hidupnya dengan standar baru mencari yang lebih dewasa, lebih sabar, lebih religius. Namun tanpa sadar, ia membawa masuk diri yang lama dengan cara mencinta yang sama, ketakutan yang sama, dan luka yang sama.

Di sinilah relevansi QS. Ar-Ra’d ayat 11 muncul: “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Sebuah pernikahan baru tidak otomatis menghadirkan versi baru dari diri kita, seperti kisah Zulaikha: Ketika cinta lahir dari kekosongan

Baca Juga:  Keadilan dan Independensi Hukum: Suara Nurdin Syam

Dalam kisah Zulaikha dan Yusuf, Al-Qur’an tak menempatkan tokohnya sebagai sosok antagonis, yang ditonjolkan justru dinamika manusiawi, cinta yang tumbuh bukan dari kelapangan jiwa, melainkan dari kekosongan yang belum terobati.

Para ulama membaca kisah itu sebagai gambaran bahwa cinta yang belum sembuh akan mencari objek baru, hanya untuk mengulang luka lama.

Tiga pertanyaan yang jarang diajarkan dalam Pra-Nikah, Ustad Pepen menyebut ada tiga pekerjaan rumah batin yang jarang disentuh ketika orang bersiap menikah:

1. Apakah aku mengenal diriku sendiri?

Banyak konflik lahir dari reaksi otomatis, bukan kesadaran diri.

2. Sudahkah aku menyembuhkan lukaku?

Luka yang tak disembuhkan tidak hilang setelah akad, ia hanya menunggu tekanan untuk muncul kembali.

3. Apakah aku mencintai karena Allah, atau karena butuh?

Ketergantungan emosional sering disalahpahami sebagai cinta, ketiganya menentukan arah hubungan jauh lebih kuat dibanding sekadar memilih pasangan yang lebih baik.

Ketika bicara perceraian, Al-Qur’an memulai Surah At-Talaq dengan sebuah nada yang tak menghakimi. Talak bukan diposisikan sebagai kegagalan personal, melainkan jalan keluar yang tetap menjaga martabat.

Ayat 1–3 mengingatkan bahwa batasan perceraian dibuat untuk melindungi, bukan memojokkan.

Bagi mereka yang pernah bercerai atau sedang berjuang mempertahankan rumah tangga, pesan Al-Qur’an tidak mengarah pada penghakiman, tetapi pada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Di balik tiap pernikahan yang kandas dan dibangun kembali, selalu ada usaha manusia untuk memperbaiki hidupnya, namun para ulama mengingatkan, pernikahan tidak dimulai dari cincin, akad, atau rumah baru. Ia dimulai dari jiwa yang siap menata ulang dirinya.

“perjalanan pernikahan dalam Islam bukan hanya tentang menemukan seseorang yang melengkapi hidup, melainkan dua jiwa yang saling menemani menuju Tuhan” pungkas ustad Pepen.

Penulis: Aan Ade Warino

Berita Terkait

Nurdin Syam (Mr KiM) Dukung Penuh Mukab Kadin Karawang, Siapapun Pemenangnya Adalah yang Terbaik
Mizongyi: Jejak yang Tak Pernah Hilang dari Warisan Abadi Huo Yuanjia
Bupati Karawang Siap Lindungi Guru Pelapor Dugaan Kecurangan Program MBG
Jeritan Seniman Karawang: Surat Terbuka untuk Wamen Kebudayaan Selamatkan Seni Tradisi yang Terancam Punah
Safari Ramadan di Pedes, Wabup Karawang Ajak Masyarakat Perkuat Kebersamaan
Pemkab Karawang Buka Mudik Gratis 2026, Sediakan 810 Kuota ke 13 Kota Tujuan
Komisi IV DPRD Jabar Tinjau TPPAS Lulut Nambo dan Kegiatan Pertambangan di Bogor
Dari Tukang Pengepul Kardus Bekas hingga Menjadi Tim Kuasa Hukum KDM
Berita ini 0 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 07:37

Bapenda Karawang Luncurkan SIPAKAR, Layanan Pajak Daerah Kini Terintegrasi Digital

Selasa, 14 April 2026 - 05:38

Usai Tutup Masa Jabatan, Anwar Usman Tersungkur di MK

Senin, 13 April 2026 - 19:19

Cuma Modal KTP! Warga Karawang Kini Bisa Berobat Gratis Tanpa BPJS

Minggu, 12 April 2026 - 07:36

KRL Tembus Karawang, Cikampek Disiapkan Jadi Depo Utama

Sabtu, 11 April 2026 - 05:34

Turun ke Desa, Pipik Taufik Ismail Tampung Keluhan Warga soal PJU, Rutilahu, dan Drainase

Jumat, 10 April 2026 - 07:55

Kasus Suap Proyek Bekasi, Ade Kuswara Kunang Klaim Tak Ada Aliran Dana ke Ono Surono

Kamis, 9 April 2026 - 18:55

LSM Laskar NKRI Napak Tilas di Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok

Rabu, 8 April 2026 - 12:57

Prabowo Kumpulkan Kabinet, Putuskan Harga Haji Turun dan IUP di Kawasan Hutan Dievaluasi

Berita Terbaru