Karawang | Lintaskarawang.com – Pemerintah Kabupaten Karawang mengambil langkah tegas dalam menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 H/2026 M. Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, menegaskan bahwa seluruh Tempat Hiburan Malam (THM) di wilayah Kabupaten Karawang wajib menghentikan operasionalnya secara total.
Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Aep dalam Rapat Pembahasan Pelaksanaan Bulan Suci Ramadan yang digelar di Aula Lantai 3 Gedung Singaperbangsa, Sabtu (14/2/2026). Rapat ini menjadi momentum konsolidasi lintas sektor dalam menjaga kondusivitas daerah selama bulan suci.
Hadir dalam rapat tersebut unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Karawang, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Karawang, serta sejumlah tamu undangan lainnya. Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan komitmen bersama dalam menciptakan suasana Ramadan yang aman dan tertib.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam arahannya, Bupati Aep menginstruksikan agar penutupan THM dilakukan mulai H-1 sebelum puasa hingga H+3 setelah Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M. Artinya, tidak ada toleransi bagi operasional tempat hiburan malam selama periode tersebut.
“Kita tidak akan mengizinkan segala apapun bentuk tempat hiburan malam beroperasi selama bulan suci Ramadan. Saya tegaskan kali ini, THM yang melanggar akan kami cabut izin operasionalnya,” tegas Bupati Aep dengan nada serius.
Selain penutupan THM, Pemkab Karawang juga menetapkan sejumlah poin krusial yang tertuang dalam Surat Edaran Bupati Karawang Nomor: 267 Tahun 2026 tentang Himbauan Selama Ramadan 1447 H/2026 M. Surat edaran ini menjadi pedoman resmi bagi seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha.
Beberapa poin penting di antaranya adalah pemberantasan penyakit masyarakat seperti perjudian, prostitusi, serta peredaran minuman beralkohol. Pemerintah juga melarang pemasangan reklame, poster, publikasi maupun pertunjukan film atau hiburan lainnya yang mengandung unsur pornografi, pornoaksi dan erotisme.
Tak hanya itu, terdapat pula pengaturan pembatasan aktivitas restoran serta pembatasan penggunaan pengeras suara luar di masjid dan musholla hingga pukul 22.00 WIB. Kebijakan ini diambil guna menjaga keseimbangan antara kekhusyukan ibadah dan ketertiban lingkungan.
Bupati Aep berharap seluruh pihak, mulai dari jajaran pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh agama, hingga para pelaku usaha, dapat bersinergi dan mematuhi regulasi yang telah ditetapkan. Ia menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga tentang menjaga marwah daerah agar tetap religius, aman, dan kondusif.













Tinggalkan Balasan