KARAWANG | Lintaskarawang.com – Pegiat seni sekaligus budayawan Karawang, Cucu Hidayat atau yang akrab disapa Kang Cucu, bersiap meluncurkan karya musik terbarunya yang sarat pesan lingkungan berjudul “Patanjala”. Karya yang dinyatakan siap rilis dan segera hadir ini bukan sekadar lagu hiburan, melainkan sebuah pengingat sekaligus alarm lingkungan di tengah kondisi alam Karawang yang semakin memprihatinkan.
Filosofi Patanjala dan Pertemuan Aliran Sungai Karawang
Secara filosofis, nama Patanjala diambil dari kearifan lokal Sunda kuno yang erat kaitannya dengan air, kesuburan, dan sumber kehidupan. Dalam pandangan leluhur, air bukan hanya kebutuhan sehari-hari, tetapi juga warisan suci yang menghubungkan manusia dengan alam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di Karawang, esensi Patanjala tercermin pada pertemuan dua sungai besar, yakni Sungai Cibeet dan Sungai Citarum. Sejak dahulu, kedua aliran sungai tersebut menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, menyuburkan lahan pertanian, mengairi ribuan hektare sawah, serta menjadikan Karawang dikenal sebagai lumbung padi nasional.
Pertemuan aliran air tersebut menjadi simbol harmoni alam yang diwariskan para leluhur untuk dijaga dan dilestarikan, bukan dirusak.
Jeritan Alam di Tengah Ancaman Pencemaran
Melalui lagu ini, Kang Cucu mengangkat realitas yang kini terjadi di lapangan. Aliran sungai yang dahulu dikenal jernih kini menghadapi tekanan berat akibat pencemaran dari limbah rumah tangga maupun aktivitas industri.
Dampaknya mulai dirasakan secara nyata. Selain mengganggu kualitas dan ketersediaan air bagi sektor pertanian, pencemaran juga memicu semakin langkanya berbagai jenis ikan endemik asli Karawang yang dahulu hidup dan berkembang di perairan setempat.
«”Lagu ini saya buat atas dasar tanggung jawab moral untuk meneruskan warisan budaya tentang bagaimana kita memperlakukan air. Kita tidak boleh menutup mata. Menjaga aliran sungai berarti menyelamatkan masa depan kehidupan kita sendiri,” ujar Kang Cucu.»
Gotong Royong Kebudayaan dan Kepedulian Bersama
Kang Cucu menyadari bahwa upaya menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan seorang diri. Lahirnya karya “Patanjala” merupakan buah dari kepedulian kolektif berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap kelestarian alam dan budaya.
Karena itu, ia menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh sahabat, masyarakat, serta para pegiat lingkungan yang telah memberikan dukungan, baik melalui doa, bantuan materi, maupun aksi nyata dalam menjaga alam Karawang.
«”Karya ini bisa terwujud karena energi kolektif. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh sahabat, masyarakat, dan para pejuang lingkungan yang telah memberikan dukungan total, baik lewat doa, bantuan materi, maupun aksi nyata menjaga kelestarian alam dan budaya Karawang. Ini adalah kerja bersama demi bumi tempat kita berpijak,” ungkapnya.»
Seruan Menjaga Alam dan Warisan Leluhur
Melalui “Patanjala”, Kang Cucu mengajak seluruh lapisan masyarakat, komunitas, hingga para pemangku kebijakan untuk bersama-sama mengambil langkah nyata dalam menjaga lingkungan.
Menurutnya, merawat alam dan menjaga keberlangsungan sumber air merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Lagu “Patanjala” diharapkan dapat menjadi pemantik kesadaran lingkungan berbasis budaya di Karawang, sekaligus mengingatkan bahwa di balik pembangunan dan kemajuan daerah, terdapat hak-hak alam yang wajib dijaga demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Karya terbaru “Patanjala” dijadwalkan segera hadir di berbagai platform resmi, membawa pesan yang sederhana namun abadi: air adalah sumber kehidupan, dan merawatnya merupakan tanggung jawab bersama umat manusia.(Wahid)













Tinggalkan Balasan