PEGUNUNGAN SANGGABUANA DIPROSES JADI TAHURA, APA BEDANYA DENGAN TAMAN NASIONAL?

- Penulis

Jumat, 10 April 2026 - 04:57

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karawang | Lintaskarawang.com – Pada 1 April 2026, Tim Terpadu yang dibentuk oleh Kementerian Kehutanan RI turun langsung ke kawasan Pegunungan Sanggabuana sebagai bagian dari proses perubahan fungsi kawasan hutan menjadi kawasan konservasi.

Tim Terpadu yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni tersebut tidak hanya mengunjungi Pegunungan Sanggabuana, tetapi juga mengkaji kawasan hutan Cibungur di Purwakarta serta Gunung Wayang di Bandung yang turut diproses menjadi kawasan konservasi.

Dua kawasan hutan, yakni Pegunungan Sanggabuana dan hutan Cibungur, sebelumnya diusulkan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan oleh Sanggabuana Conservation Foundation (SCF). Kawasan Sanggabuana telah diusulkan sejak tahun 2021, sementara hutan Cibungur diajukan pada tahun 2025 kepada Gubernur Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada awalnya, Pegunungan Sanggabuana diusulkan menjadi Taman Nasional. Namun pada April 2026, Tim Terpadu memproses perubahan usulan menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Hal ini memunculkan pertanyaan, apa perbedaan Tahura dengan Taman Nasional.

Penggagas kajian, Bernard T. Wahyu Wiryanta menjelaskan bahwa Taman Nasional dan Tahura sama-sama merupakan kawasan konservasi yang termasuk dalam Kawasan Pelestarian Alam (KPA), sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2024 tentang perubahan atas UU No. 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dalam undang-undang tersebut, KPA diartikan sebagai kawasan dengan ciri khas tertentu yang memiliki fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, serta pemanfaatan sumber daya alam secara lestari. KPA terdiri dari Taman Nasional, Taman Hutan Raya (Tahura), dan Taman Wisata Alam (TWA).

Menurut Bernard, berdasarkan hasil kajian terbaru dan kondisi di lapangan, Pegunungan Sanggabuana masih memiliki banyak blok hutan yang terfragmentasi dan membutuhkan rehabilitasi, serta tingginya keterlibatan masyarakat dalam aktivitas di dalam kawasan hutan.

Baca Juga:  Anggota DPRD Jabar Pipik Taufik Ismail Kecam Perburuan Liar di Hutan Sanggabuana, Desak Penegakan Hukum Tegas

“Dengan kondisi tersebut, bentuk yang paling ideal saat ini adalah Tahura,” tegasnya.

Secara prinsip, Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam dengan ekosistem asli yang dikelola menggunakan sistem zonasi ketat, seperti zona inti, zona rimba, hingga zona pemanfaatan. Di zona inti, tidak diperbolehkan adanya aktivitas manusia kecuali untuk penelitian terbatas, serta tidak boleh ada penambahan jenis tumbuhan maupun satwa.

Sementara itu, Tahura merupakan kawasan pelestarian alam yang lebih fleksibel, dikelola berdasarkan sistem blok, seperti blok perlindungan, blok koleksi, dan blok pemanfaatan. Di Tahura, masih dimungkinkan penambahan jenis tumbuhan dan satwa, baik asli maupun non-asli, untuk kepentingan rehabilitasi dan pengayaan ekosistem.

Dari data SCF, luas kawasan kerja mencapai sekitar 16.500 hektare, dengan sekitar 11.740 hektare yang akan diproses menjadi Tahura. Sebagian kawasan tersebut mengalami alih fungsi lahan sehingga membutuhkan pemulihan ekosistem secara bertahap.

Dalam Forum Group Discussion (FGD) di Desa Cintalaksana, masyarakat sempat menyampaikan kekhawatiran terkait perubahan status kawasan, khususnya terhadap aktivitas ekonomi seperti pengelolaan wisata alam.

Menanggapi hal itu, Bernard menjelaskan bahwa dalam skema Tahura, masyarakat tetap dapat berperan melalui blok pemanfaatan dan zona tradisional, termasuk dalam kegiatan wisata alam, penyadapan aren, hingga pengambilan madu hutan.

Dengan pendekatan ini, diharapkan keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan keberlangsungan aktivitas masyarakat dapat tetap terjaga, seiring proses penetapan kawasan konservasi yang masih terus berjalan. (LK)

Berita Terkait

Yusron GIBAS Sentil KIM: Kalau Ada Pelanggaran, Tunjukkan Oknum, Jangan Pukul Rata Ormas
Bupati Karawang Gelar Mancing Gratis Serentak di 30 Kecamatan, Meriahkan HUT Karawang ke-393 di 30 Kecamatan, Meriahkan HUT Karawang ke-393
Padukan Seni Urban dan Budaya Lokal, Karawang Urban Culture Vol. 2 Dongkrak Omzet UMKM Tembus Rp1,16 Miliar
16 Peserta Pemagangan Disnakertrans Karawang Raih Sertifikat BNSP, Tiga Langsung Diterima Kerja
NAMA SAMBAS MUNCUL DALAM PENGADAAN RAPAT K3S, STATUS ASN KORWIL DIPERTANYAKAN: ADA POTENSI KONFLIK KEPENTINGAN?
Diduga Ada Pembiayaan Ganda Operasional Korwil Cambidik, Transparansi Disdik Karawang Dipertanyakan
Bupati Aep Wujudkan Janji, Modul Belajar Gratis Hadir untuk Siswa SD dan SMP se-Karawang
Bhabinkamtibmas Polsek Rengasdengklok Bersama Masyarakat dan Mahasiswa KKN Unsika Gelar Kerja Bakti Bersihkan Eceng gondok
Berita ini 0 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:49

Kang Bagas Optimistis Abdul Gofur Unggul di Pilkades Wadas, SIWADAS Jadi Program Andalan Transparansi Desa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:09

MASYARAKAT CIPEUNDEUY TEGAS TOLAK PT CMM, DESAK PEMERINTAH PERIKSA LEGALITAS DAN KEPATUHAN LINGKUNGAN

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:54

FMSB Gelar Seminar Lingkungan Hidup, Soroti Tantangan Industrialisasi di Kabupaten Subang

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 06:27

JAGA REPUTASI INVESTASI BYD DAN VINFAST, FMSB DESAK PENEGAKAN HUKUM TERKAIT PT CMM DI SUBANG

Selasa, 6 Oktober 2026 - 00:51

Novia Nurfitriani, S.H. Resmi Dilantik Jadi Anggota BPD Rengasdengklok Selatan

Selasa, 29 September 2026 - 11:28

Gema Maulid Nabi Menggema di Karyasari, Tabligh Akbar Hadirkan Ustaz Nana Gerhana

Sabtu, 19 September 2026 - 04:32

Ketua DPRD Karawang Hadiri Helaran Budaya “Karawang dari Masa ke Masa” Hari Jadi ke-393

Rabu, 9 September 2026 - 05:52

Bina Sandra Tantang Peta Politik Cikampek Timur, Ratusan Pendukung Antar Daftar Pilkades

Berita Terbaru