Karawang, Lintaskarawang.com – Digitalisasi terus mendorong perubahan signifikan dalam dunia ketenagakerjaan, kebiasaan lama dalam proses rekrutmen yang selama ini dilakukan secara manual kini bertransformasi menjadi sistem yang lebih modern, otomatis, dan berbasis teknologi. Aktivitas yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang kini dapat dilakukan lebih cepat, efisien, dan tanpa batasan ruang maupun waktu.
Salah satu perubahan besar tampak pada proses melamar pekerjaan, sejumlah perusahaan mulai beralih ke sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang diklaim bekerja lebih otomatis, objektif, dan transparan.
Ketua Forum HRD KIIC, Zainul Akhwil, menegaskan bahwa penerapan AI dalam proses rekrutmen bukan lagi sekadar rencana, tetapi telah dijalankan oleh banyak perusahaan di kawasan industri dan tren ini diprediksi akan berkembang lebih masif dalam waktu dekat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dunia sekarang berubah cepat, jadi SDM juga harus ikut berubah. Siapa yang menguasai teknologi, dia yang akan unggul,” ujarnya dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Sistem Online Single Submission (OSS) yang digelar Forum HRD KIIC di Swisbell Hotel, Kamis (02/04/26).
Kegiatan tersebut diikuti ratusan HRD dari berbagai perusahaan di kawasan industri Karawang.
Menurut Zainul, hampir seluruh tahapan rekrutmen kini bisa dilakukan oleh AI bahkan ribuan CV yang masuk akan dipindai dan dianalisis otomatis oleh sistem. Kandidat yang dinilai paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan akan langsung melaju ke tahap berikutnya tanpa intervensi manual.
Tidak hanya seleksi administrasi, AI juga dapat menjadwalkan wawancara hingga melakukan interview secara langsung. Seluruh hasil proses tersebut kemudian dianalisis kembali oleh sistem untuk menentukan kandidat terbaik yang layak diterima.
“Jadi benar-benar full digital, dari awal kirim lamaran sampai penentuan diterima atau tidak, semua diproses oleh AI,” jelasnya.
Zainul menilai, penerapan sistem ini akan membuat praktik titipan, koneksi, maupun mekanisme orang dalam semakin sulit terjadi sehingga proses rekrutmen menjadi lebih transparan karena sepenuhnya berbasis data dan kualifikasi objektif.
Transformasi digital juga tidak berhenti setelah karyawan diterima. AI diprediksi akan memegang peran penting dalam pemantauan kinerja, mulai dari absensi, produktivitas, hingga pencapaian target kerja (KPI). Seluruh indikator tersebut dapat dianalisis secara otomatis untuk membantu perusahaan mengambil keputusan berbasis data.
Meski bagi sebagian orang keberadaan AI terasa mengkhawatirkan, Zainul menegaskan bahwa teknologi ini bukan ancaman. Sebaliknya, AI hadir untuk mempermudah, merapikan, dan membuat sistem kerja jauh lebih terukur.
Namun, ia mengingatkan bahwa pencari kerja harus mampu beradaptasi, salah satu keterampilan wajib adalah memahami cara membuat CV yang dapat terbaca oleh sistem AI, serta meningkatkan kemampuan digital.
“Pelamar juga harus upgrade, minimal tahu bagaimana CV-nya bisa terbaca sistem, sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, peran HRD diperkirakan akan mengalami perubahan signifikan. Pekerjaan administratif akan banyak diambil alih oleh sistem, namun keputusan strategis tetap membutuhkan sentuhan manusia.
Transformasi digital ini menjadi sinyal bahwa dunia kerja menuju fase baru lebih cepat, otomatis, dan berorientasi pada kompetensi. Para pencari kerja yang mampu beradaptasi diprediksi akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.(***)
Editor: Aan Ade Warino













Tinggalkan Balasan