Tim Ekspedisi Owa Jawa Sanggabuana Menemukan Banyak Bebatuan Diduga Artefak

- Penulis

Senin, 5 Agustus 2024 - 09:35

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karawang, Lintaskarawang.com – Tim “Sanggabuana Javan Gibbon Expedition” (SJGE), yang sedang menjelajah kawasan pegunungan Sanggabuana untuk mendata populasi Owa Jawa, melaporkan penemuan menarik lainnya pada hari keempat ekspedisi. Kali ini, mereka menemukan bebatuan dengan berbagai bentuk dan ukuran yang diduga sebagai artefak. Tim ekspedisi ini dibentuk oleh Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) dan Astra Otopart Group, dengan dukungan dari Denharrahlat Kostrad, BBKSDA Jabar, dan Perum Perhutani.

Penemuan bebatuan unik ini dilaporkan pada Minggu, 4 Agustus 2024. Komarudin, anggota Tim Beta SJGE dan Sanggabuana Wildlife Ranger, menyatakan bahwa batu-batu tersebut ditemukan di sebuah gubuk di sawah pinggiran hutan Pegunungan Sanggabuana. “Ada yang sudah dipakai sebagai tatakan tiang atau ‘umpak’ saung/gubuk, ada yang dipakai untuk tatakan batu asahan, dan sebagian dipakai untuk tempat duduk. Beberapa batu berserakan di halaman dan digunakan sebagai pondasi tanah halaman gubuk,” jelas Komarudin, yang akrab dipanggil Koko.

Menurut Komarudin, beberapa batu tersebut berukuran besar dengan diameter sekitar 40 cm dan ada yang berbentuk seperti buah labu. Diameter paling kecil sekitar 15 cm, sementara lainnya berbentuk bundar dengan ketebalan sekitar 8 cm. “Yang aneh, sebagian besar memiliki lubang di tengah dan seperti as yang tembus ke sisi sebaliknya, ini seperti batu yang memiliki fungsi sebagai alat. Bisa jadi sebuah artefak. Tapi masyarakat menyebutnya fosil,” terang Koko.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Komarudin menambahkan bahwa salah satu batu yang ditemukan terlihat seperti alat untuk menggiling gandum di Eropa pada zaman kuno. “Satu lagi oleh anggota tim sempat dicek di Google Lens, yang muncul fosil labu, dan bahkan ada yang dijual di marketplace dengan harga tinggi,” tambahnya.

Baca Juga:  PEMKAB KARAWANG MELALUI CAMAT CIKAMPEK KELUARKAN PERINGATAN KEPADA PKL YANG BERJUALAN DI TROTOAR DAN BADAN JALAN

Menurut hasil penelusuran, di kampung-kampung sekitar tempat penemuan ini sering ditemukan fosil batu atau batu-batuan yang diduga sebagai artefak. Namun, banyak dari batu-batu tersebut yang dibawa keluar oleh para pendatang. Di sekitar gubuk tempat penemuan batu tersebut, pernah ditemukan batu berbentuk kura-kura yang juga telah dibawa keluar untuk diteliti.

Di kawasan Sanggabuana, memang terdapat beberapa prasasti, seperti prasasti Kebon Jambe di Mekarbuana, Situs Makam Gunung Leutik, dan Situs Bojong Manggu. Namun, tidak ditemukan situs yang terdaftar di sekitar penemuan bebatuan yang diduga artefak ini.

Dharma Putra G, SS, Tim Ahli Cagar Budaya Karawang, menyebut bahwa foto-foto bebatuan temuan tim SJGE kemungkinan merupakan fosil organik. Menurutnya, fosilisasi dapat terjadi melalui proses alamiah yang memakan waktu panjang, sekitar 10.000 tahun, tergantung pada oksigen tanah, letak geografis, iklim, dan unsur tanah. “Ini menarik, tapi detail lebih lanjut hanya bisa dipastikan setelah saya melakukan pengecekan langsung di lapangan. Minggu ini saya akan mengecek ke lapangan,” ujar Dharma.

Sementara itu, Sanip Syarifudin, tokoh budaya Karawang yang akrab disapa Abah Bapung, mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Karawang sebaiknya turun tangan untuk menyelamatkan berbagai artefak atau fosil yang ditemukan di Karawang Selatan. “Tentunya Pemkab Karawang harus mengekskavasi serta bisa mengumpulkan dan menempatkan temuan-temuan ini di tempat yang seharusnya, selain untuk keperluan riset juga sebagai koleksi penemuan yang bisa dipelajari sebagai kekayaan peradaban atau sejarah masa lalu,” tutup Abah Bapung.

Berita Terkait

DPRD Karawang Siap Kawal Aspirasi PPPK Paruh Waktu, Perjuangkan Kepastian Status dan Kesejahteraan
PT NIJ Tak Hadiri RDP, DPRD Karawang Kecewa: Persoalan Kemitraan dan Tenaga Kerja Jadi Sorotan
Munas APPI 2026 Perkuat Profesionalisme dan Independensi Pers
Bupati Karawang Komitmen Tingkatkan Anggaran UMKM, Targetkan Capai Rp13 Miliar di 2027
JUT Kosambibatu Disorot, Hasil Pengukuran dan Klarifikasi Pihak Terkait Jadi Bahan Verifikasi
FMSB TEGASKAN KOMITMEN KAWAL PERSOALAN PT CMM, IQBAL MAULANA: JANGAN LECEHKAN PENEGAKAN ATURAN PEMERINTAH DAERAH!
Ahmad Basuni Nomor Urut 1, Ahmad Jaenudin Nomor 2 dalam Pilkades Sampalan Kutawaluya
Masyarakat Soroti Pembangunan Rehabilitasi Mushola SMPN I Pakisjaya Diduga Tidak Transparan.dan abaikan K3.
Berita ini 51 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:31

Dugaan Perbuatan Melanggar Hukum oleh PT. NIJ terhadap PT Saptari Sentosa Sejahtera Resmi Layangkan Gugatan di Pengadilan Negeri Karawang

Selasa, 20 Oktober 2026 - 00:56

Motor Warga Mogok Usai Isi Pertalite di SPBU Pedes, Pengawas Minta Maaf

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:13

FMSB TEGAS: JANGAN TERBITKAN IZIN UNTUK PT CMM JIKA LOKASINYA TIDAK SESUAI PERUNTUKAN!

Minggu, 18 Oktober 2026 - 05:40

Proyek Pembangunan RKB POS PAUD BAHRUL ILMI Pakisjaya Rp.189 Juta Di sorot.APD di pertanyakan.

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:48

Konsumen Sudah Lunas, Kost Belum Rampung! GRANADA LIVING KARAWANG Disorot, Kontraktor Mengaku Belum Dibayar

Jumat, 16 Oktober 2026 - 06:59

Kebakaran Kantor ATR/BPN Karawang Jadi Sorotan, Pipik Taufik Ismail Pertanyakan Keamanan dan Cadangan Data Pertanahan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 04:40

Program Modul Gratis Pemkab Karawang Jadi Perhatian, SDN Gempol Karya I Ikuti Kebijakan Pendidikan Daerah

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:37

Dini Novi Andriyani S.E. Raih Nomor Urut 1 dalam Pengundian Calon Kepala Desa Sindangkarya

Berita Terbaru