Karawang, Lintaskarawang.com – Pemerintah Kabupaten Karawang menggelar pertunjukan tari kolosal bertemakan “Karawang Maju Seni Lestari” yang melibatkan 6.000 penari jaipong dari berbagai kalangan dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia 2025, yang bertempat di Lapangan Parkir Timur Vilaggio Sumarecon, Karawang Timur, pada Sabtu (03/05/25).
Acara ini menjadi panggung bagi ekspresi budaya yang mengagumkan, dengan ribuan penari menampilkan koreografi tari tradisional dan modern yang sangat energik, sarat nilai-nilai budaya lokal yang diiringi musik live dari maestro Karawang, Abah Namin, dan syair filosofis dari juru kawih Kokom Komalasari, suasana semakin terasa sakral dan penuh semangat.
Salah satu penampilan yang menyita perhatian datang dari Sanggar Ringkang Gumilang, salah satu sanggar tari tertua di Kabupaten Karawang. Sanggar ini tampil memukau dengan gerakan tari yang eksentrik dan penuh semangat, berhasil mencuri perhatian juri dan penonton.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sanggar Ringkang Gumilang yang berdiri sejak tahun 1996 telah menjadi wadah pendidikan dan pelestarian seni tari tradisional dan modern selama hampir tiga dekade, yang berlokasi di Gedung Darma Wanita, Panatayudha No. 1 Karawang, sanggar ini telah mencetak banyak pelatih tari dan berkontribusi besar dalam regenerasi seniman tari di Karawang
Eka Fitriani, pemilik Sanggar Ringkang Gumilang, mengungkapkan rasa bangganya atas penampilan anak didiknya.
“Kami sangat bangga bisa menjadi bagian dari pertunjukan besar ini. Anak-anak tampil luar biasa dan berhasil menunjukkan bahwa seni tari tradisional tetap hidup dan berkembang di Karawang,” ujar Eka saat diwawancarai.
Pertunjukan ini merupakan hasil kolaborasi antara Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), serta Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) sebagai bentuk pelestarian budaya dan kebanggaan lokal Karawang yang disambut hangat oleh masyarakat dan dinilai sebagai pertunjukan budaya terbesar di Karawang tahun ini dengan semangat kolaborasi dan pelestarian budaya.
Editor: Aan












