Karawang | Lintaskarawang.com – Dalam momentum Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni 2026, praktisi hukum sekaligus tokoh masyarakat, Ujang Suhana, SH, mengajak masyarakat menjadikan Pancasila sebagai pedoman nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan sekadar hafalan atau simbol seremonial.
Menurut Ujang Suhana, Pancasila yang kini telah berusia 81 tahun harus terus menjadi kompas perjuangan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan (AI), krisis iklim, hingga maraknya adu domba dan penyebaran hoaks di media sosial.
“Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026. Pancasila bukan hanya hafalan, tetapi kompas perjuangan bangsa Indonesia,” ujar Ujang Suhana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam refleksinya, Ujang mengutip pesan-pesan perjuangan dari tiga tokoh besar yang dinilainya masih sangat relevan untuk Indonesia saat ini, yakni Bung Karno, Tan Malaka, dan Prabu Siliwangi.
Menurutnya, semangat Bung Karno mengajarkan keberanian, nasionalisme, dan gotong royong. Ia mengingatkan bahwa perjuangan generasi saat ini bukan lagi melawan penjajah, melainkan melawan kemiskinan, kebodohan, korupsi, serta berbagai upaya yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
“Semangat Bung Karno adalah berani dan lantang. Jangan diam ketika bangsa sedang digerogoti oleh berbagai persoalan,” katanya.
Sementara itu, dari pemikiran Tan Malaka, Ujang menilai masyarakat harus membangun kemandirian ekonomi dan kecerdasan berpikir. Ia menekankan pentingnya melek teknologi, membangun usaha, serta tidak terjebak dalam budaya konsumtif dan ketergantungan utang.
“Tan Malaka mengajarkan bahwa idealisme harus dibarengi logika dan kerja keras. Perjuangan sejati sering kali tidak viral, tetapi memberikan manfaat besar bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Adapun dari falsafah Prabu Siliwangi melalui ajaran Tri Tangtu Buana, Ujang melihat adanya keselarasan dengan nilai-nilai Pancasila. Konsep tersebut mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, ilmu pengetahuan, serta negara dan kepemimpinan.
Ia menjelaskan bahwa nilai “Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh” sangat relevan dalam menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta membangun budaya musyawarah di tengah masyarakat.
“Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki adab, menghormati ilmu, menjaga persaudaraan, dan taat pada aturan yang adil,” tegasnya.
Ujang kemudian merangkum pesan ketiga tokoh tersebut sebagai panduan perjuangan masyarakat Indonesia di era modern. Menurutnya, Bung Karno mengajarkan keberanian untuk melawan kemalasan dan hoaks, Tan Malaka mengajarkan kecerdasan dan kemandirian ekonomi, sedangkan Prabu Siliwangi mengajarkan harmoni sosial dan tata krama dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai penutup, Ujang Suhana menegaskan bahwa Pancasila bukanlah jimat yang otomatis menyelesaikan persoalan bangsa, melainkan pekerjaan rumah yang harus terus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Pancasila bukan jimat, tetapi PR bagi seluruh rakyat Indonesia. Bung Karno memberi kita nyali, Tan Malaka memberi kita otak, dan Prabu Siliwangi memberi kita adab. Tantangan tahun 2026 memang berbeda, tetapi kompasnya tetap sama, yaitu Bhinneka Tunggal Ika,” pungkasnya.
(LK)













Tinggalkan Balasan