Karawang | Lintaskarawang.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini, dugaan persoalan kualitas makanan terjadi di SDN Ciptamargi 4, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, yang menerima makanan dari SPPG Ciptamargi 002.
Informasi tersebut ramai diperbincangkan setelah sebuah video yang memperlihatkan dugaan adanya ulat di dalam sayuran menu MBG beredar di grup wali kelas.
Menurut keterangan salah satu orang tua siswa, ulat tersebut ditemukan di dalam sayuran yang menjadi bagian dari makanan MBG. Beruntung, makanan tersebut belum sempat dimakan oleh anaknya sehingga dugaan ulat itu diketahui sebelum makanan dikonsumsi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untungnya tidak kemakan oleh anak saya,” ujar orang tua siswa tersebut.
Persoalan ini tentu tidak bisa dianggap sebagai kejadian sepele. Program MBG menyasar anak-anak sekolah yang seharusnya mendapatkan makanan yang bergizi, layak, higienis, dan aman untuk dikonsumsi.
Jika benar ditemukan ulat dalam makanan yang dibagikan kepada siswa, maka pertanyaan besarnya bukan hanya soal bagaimana ulat tersebut bisa masuk ke dalam sayuran, tetapi juga sejauh mana proses pemeriksaan bahan baku, pencucian, pengolahan, hingga pemeriksaan akhir sebelum makanan didistribusikan ke sekolah dilakukan oleh pihak SPPG.
MBG Jangan Sekadar Kejar Jumlah, Keamanan Harus Nomor Satu
Program MBG bukan sekadar persoalan membagikan makanan kepada sebanyak-banyaknya siswa. Ada tanggung jawab besar di balik setiap kotak makanan yang diberikan kepada anak-anak.
Jangan sampai orientasi terhadap target distribusi justru membuat aspek kualitas dan keamanan pangan menjadi nomor dua.
Sebab, makanan yang diberikan kepada anak sekolah tidak boleh hanya terlihat lengkap secara menu. Sayur ada, lauk ada, buah ada, lalu dianggap selesai.
Yang lebih penting adalah memastikan seluruh makanan tersebut benar-benar layak konsumsi.
Temuan dugaan ulat dalam sayuran semestinya menjadi alarm bagi pengelola SPPG dan pihak terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Pertanyaannya sederhana:
Apakah bahan baku benar-benar diperiksa?
Apakah sayuran dicuci dan disortir dengan standar yang memadai?
Apakah proses memasak diawasi dengan baik?
Dan apakah makanan diperiksa kembali sebelum dikirim kepada anak-anak di sekolah?
Jangan menunggu sampai ada siswa yang benar-benar mengalami gangguan kesehatan baru kemudian semua pihak sibuk mencari siapa yang bertanggung jawab.
Orang Tua Berhak Mendapat Penjelasan
Orang tua siswa tentu memiliki hak untuk mengetahui bagaimana makanan yang dikonsumsi anak mereka diproses dan dijamin keamanannya.
Apalagi jika benar video tersebut beredar di grup wali kelas dan menjadi perhatian para orang tua.
Pihak SPPG Ciptamargi 002 maupun instansi terkait perlu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kejadian tersebut.
(LK)













Tinggalkan Balasan