Karawang, Lintaskarawang.com – Ramainya isu mengenai dugaan “150 juta Restorative Justice (RJ)” yang dikaitkan dengan perkara ujaran kebencian terhadap warga Karawang dengan terduga Oktav, Manager FCC, terus menjadi sorotan publik. Kasus ini menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari aktivis, insan pers, praktisi hukum, hingga para intelektual yang menilai isu tersebut perlu dikaji secara objektif dan hati-hati.
Menanggapi hal tersebut, pemerhati sosial Karawang, Nurdin Syam yang akrab disapa Mr. KiM, memberikan pandangannya. Ia menilai keputusan pelapor untuk mencabut laporan polisi (LP) merupakan tindakan yang didasari oleh pertimbangan kemanusiaan.
“Jika pelapor mencabut LP-nya, tentu dengan alasan kuat. Misalnya, karena keluarga terlapor, istri dan anak-anaknya datang memohon maaf atas perbuatan terlapor agar masalah ini tidak dilanjutkan. Dari sisi nurani, langkah pelapor tersebut patut diapresiasi,” ujarnya, Sabtu (18/10/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, Mr. KiM menegaskan bahwa isu “150 juta” yang dikaitkan dengan proses RJ harus dapat dibuktikan secara fakta dan hukum. Jika tidak, maka hal itu bisa menjadi bentuk pembunuhan karakter terhadap pelapor.
“Siapa yang pertama kali menyebarkan isu itu ke publik? Jika tudingan ini tidak memiliki bukti kuat, maka sama saja dengan mencemarkan nama baik dan merusak reputasi pelapor,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga mengkritisi pelapor yang tidak melakukan komunikasi kepada saksi-saksi sebelum mengambil keputusan RJ. “Meskipun tidak ada aturan hukum yang mewajibkan hal itu, namun secara sosial, seharusnya pelapor memberi tahu para saksi agar tidak timbul prasangka buruk,” ujarnya.
Menurut Mr. KiM, dalam dunia sosial apa pun bentuknya, tidak semua orang akan berpikir positif. Akan selalu ada pihak yang menilai negatif, bahkan menyebarkan komentar miring. “Itu bagian dari dinamika sosial. Jangan terlalu diambil hati. Teruslah berbuat baik dan menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat,” tuturnya.
Ia juga menilai bahwa komentar-komentar miring yang beredar mungkin berasal dari rasa iri atau ketidakmampuan sebagian pihak yang tidak mendapat kesempatan serupa. “Bisa jadi mereka memang terbiasa berpikir dengan logika cuan. Padahal, kemanusiaan seharusnya tidak dijadikan komoditas,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Mr. KiM menulis catatan reflektif:
“Carilah cuan sebanyak-banyaknya. Rezeki adalah milik semesta, dan semesta yang menentukan kepada siapa cuan hari ini diberikan.” (LK)













Tinggalkan Balasan