Karawang | Lintaskarawang.com – Kabar menggembirakan datang dari kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat. Burung pemangsa Sikep Madu Asia atau Oriental Honey-Buzzard (Pernis ptilorhynchus) ras penetap atau ras Jawa dilaporkan ditemukan bersarang dan berkembang biak di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana.
Temuan tersebut dinilai penting bagi dunia konservasi dan penelitian satwa liar karena proses perkembangbiakan burung tersebut berhasil didokumentasikan mulai dari induk mengeram hingga telur menetas.
Kawasan Pegunungan Sanggabuana sendiri saat ini tengah menunggu proses penetapan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan untuk menjadi kawasan konservasi berupa Taman Hutan Raya (Tahura).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut fotografer sekaligus peneliti satwa liar dari Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernard T. Wahyu Wiryanta, keberadaan Sikep Madu Asia di Sanggabuana tidak hanya berkaitan dengan burung migrasi, tetapi juga menunjukkan adanya populasi ras penetap atau ras Jawa.
“Selain Sikep Madu Asia yang merupakan burung migrasi, ada juga Sikep Madu Asia ras penetap atau ras Jawa,” ujar Bernard.
Salah satu ciri yang disebut dapat membantu membedakan ras penetap dengan ras migran adalah keberadaan jambul pada bagian kepala. Ras penetap atau ras Jawa memiliki jambul, sementara individu migran umumnya tidak memiliki ciri tersebut.
Awalnya Dikira Elang Jawa
Penemuan burung tersebut bermula pada pertengahan Agustus 2026. Saat pertama kali diamati, burung yang sedang berada di sekitar sarang di salah satu petak hutan Pegunungan Sanggabuana tersebut sempat diduga sebagai Elang Jawa (Nisaetus bartelsi).
Namun, setelah dilakukan pemantauan lebih lanjut oleh anggota Sanggabuana Wildlife Ranger dari SCF, identifikasi menunjukkan bahwa burung tersebut merupakan Oriental Honey-Buzzard ras penetap atau ras Jawa (P. p. ptilorhynchus).
Tim kemudian melakukan monitoring terhadap aktivitas induk burung tersebut hingga proses pengeraman dan akhirnya telur menetas.
Menurut Bernard, dokumentasi tersebut menjadi salah satu temuan penting karena memperlihatkan secara visual proses perkembangbiakan Oriental Honey-Buzzard ras Jawa di Pulau Jawa.
“Ini merupakan salah satu temuan penting dan merupakan bukti visual pertama kali perkembangbiakan OHB ras Jawa di Pulau Jawa,” ungkapnya.
Jadi Indikator Keutuhan Ekosistem Sanggabuana
Keberadaan pasangan OHB ras Jawa yang bersarang dan berhasil menetaskan telur dinilai memiliki arti penting terhadap kondisi ekosistem Pegunungan Sanggabuana.
Burung pemangsa tersebut membutuhkan habitat dengan kondisi hutan yang mendukung, termasuk keberadaan pohon sarang dan ketersediaan sumber pakan.
Pakan utama Oriental Honey-Buzzard antara lain larva, pupa, serta sarang lebah madu dan tawon. Selain itu, burung ini juga diketahui memangsa berbagai jenis serangga berukuran besar seperti kumbang, jangkrik, belalang dan ulat kayu, serta amfibi dan reptil berukuran kecil.
Karena itu, keberadaan OHB yang berhasil berkembang biak di Sanggabuana dapat menjadi indikator penting mengenai keutuhan tajuk hutan, keberadaan pohon sarang serta ketersediaan sumber pakan di kawasan tersebut.
“Keberadaan OHB ras Jawa yang berbiak di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana ini menjadi indikator penting terkait keutuhan tajuk dan pohon sarang utama serta indikator kelimpahan pakan utama,” jelas Bernard.
Sanggabuana Bukan Sekadar Jalur Migrasi
Temuan tersebut sekaligus memperkuat dugaan bahwa Pegunungan Sanggabuana bukan sekadar menjadi lokasi persinggahan atau jalur perlintasan burung pemangsa yang bermigrasi.
Kawasan tersebut juga berfungsi sebagai habitat untuk berkembang biak bagi avifauna yang memiliki nilai penting bagi konservasi.
Atas dasar itu, Bernard menilai lokasi yang terdapat sarang Sikep Madu Asia maupun jenis raptor lainnya perlu mendapatkan perlindungan lebih ketat.
“Idealnya petak yang terdapat sarang Sikep Madu Asia dan jenis raptor lain segera berubah menjadi zona perlindungan atau zona inti,” katanya.
Menurutnya, perlindungan tersebut penting agar tidak terjadi alih fungsi lahan hutan maupun pembangunan jalur wisata secara masif di sekitar lokasi pohon yang menjadi tempat bersarang.
Berpeluang Jadi Objek Penelitian Ornithologi
Selain memiliki nilai konservasi, keberadaan OHB ras Jawa yang berhasil didokumentasikan berkembang biak juga membuka peluang penelitian lebih lanjut.
Bernard menyebut temuan tersebut dapat menjadi momentum bagi pengembangan penelitian ornithologi, khususnya untuk mempelajari perilaku, reproduksi dan ekologi OHB ras Jawa.
“Juga menjadi peluang penelitian atau riset ornithologi. Karena ini merupakan temuan pertama dengan bukti visual. Jurnal perilaku alami OHB ras Jawa secara lengkap juga belum ada,” tuturnya.
Anak OHB yang telah menetas tersebut kini diharapkan dapat tumbuh dengan baik, terbang bebas dan nantinya kembali berkembang biak di kawasan Pegunungan Sanggabuana.
Temuan ini sekaligus menjadi pesan penting bahwa kelestarian hutan bukan hanya menjaga tutupan vegetasi, tetapi juga mempertahankan fungsi ekologis kawasan sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk burung pemangsa yang berkembang biak di dalamnya.
(LK)













Tinggalkan Balasan