Temuan Pertama Oriental Honey-Buzzard Berbiak di Pegunungan Sanggabuana, Jadi Indikator Penting Kawasan Konservasi

- Penulis

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:51

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oriental Honey-Buzzard ras penetap atau ras Jawa (P. p. ptilorhynchus) bersarang dan berkembang biak di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana.

Oriental Honey-Buzzard ras penetap atau ras Jawa (P. p. ptilorhynchus) bersarang dan berkembang biak di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana.

Karawang | Lintaskarawang.com – Kabar menggembirakan datang dari kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat. Burung pemangsa Sikep Madu Asia atau Oriental Honey-Buzzard (Pernis ptilorhynchus) ras penetap atau ras Jawa dilaporkan ditemukan bersarang dan berkembang biak di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana.

Temuan tersebut dinilai penting bagi dunia konservasi dan penelitian satwa liar karena proses perkembangbiakan burung tersebut berhasil didokumentasikan mulai dari induk mengeram hingga telur menetas.

Kawasan Pegunungan Sanggabuana sendiri saat ini tengah menunggu proses penetapan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan untuk menjadi kawasan konservasi berupa Taman Hutan Raya (Tahura).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut fotografer sekaligus peneliti satwa liar dari Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernard T. Wahyu Wiryanta, keberadaan Sikep Madu Asia di Sanggabuana tidak hanya berkaitan dengan burung migrasi, tetapi juga menunjukkan adanya populasi ras penetap atau ras Jawa.

“Selain Sikep Madu Asia yang merupakan burung migrasi, ada juga Sikep Madu Asia ras penetap atau ras Jawa,” ujar Bernard.

Salah satu ciri yang disebut dapat membantu membedakan ras penetap dengan ras migran adalah keberadaan jambul pada bagian kepala. Ras penetap atau ras Jawa memiliki jambul, sementara individu migran umumnya tidak memiliki ciri tersebut.

Awalnya Dikira Elang Jawa

Penemuan burung tersebut bermula pada pertengahan Agustus 2026. Saat pertama kali diamati, burung yang sedang berada di sekitar sarang di salah satu petak hutan Pegunungan Sanggabuana tersebut sempat diduga sebagai Elang Jawa (Nisaetus bartelsi).

Namun, setelah dilakukan pemantauan lebih lanjut oleh anggota Sanggabuana Wildlife Ranger dari SCF, identifikasi menunjukkan bahwa burung tersebut merupakan Oriental Honey-Buzzard ras penetap atau ras Jawa (P. p. ptilorhynchus).

Tim kemudian melakukan monitoring terhadap aktivitas induk burung tersebut hingga proses pengeraman dan akhirnya telur menetas.

Menurut Bernard, dokumentasi tersebut menjadi salah satu temuan penting karena memperlihatkan secara visual proses perkembangbiakan Oriental Honey-Buzzard ras Jawa di Pulau Jawa.

“Ini merupakan salah satu temuan penting dan merupakan bukti visual pertama kali perkembangbiakan OHB ras Jawa di Pulau Jawa,” ungkapnya.

Jadi Indikator Keutuhan Ekosistem Sanggabuana

Keberadaan pasangan OHB ras Jawa yang bersarang dan berhasil menetaskan telur dinilai memiliki arti penting terhadap kondisi ekosistem Pegunungan Sanggabuana.

Burung pemangsa tersebut membutuhkan habitat dengan kondisi hutan yang mendukung, termasuk keberadaan pohon sarang dan ketersediaan sumber pakan.

Baca Juga:  Pasca Cuaca Ekstrem, Aktivis Karawang Minta Pemerintah Gerak Cepat Perbaiki Jalan

Pakan utama Oriental Honey-Buzzard antara lain larva, pupa, serta sarang lebah madu dan tawon. Selain itu, burung ini juga diketahui memangsa berbagai jenis serangga berukuran besar seperti kumbang, jangkrik, belalang dan ulat kayu, serta amfibi dan reptil berukuran kecil.

Karena itu, keberadaan OHB yang berhasil berkembang biak di Sanggabuana dapat menjadi indikator penting mengenai keutuhan tajuk hutan, keberadaan pohon sarang serta ketersediaan sumber pakan di kawasan tersebut.

“Keberadaan OHB ras Jawa yang berbiak di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana ini menjadi indikator penting terkait keutuhan tajuk dan pohon sarang utama serta indikator kelimpahan pakan utama,” jelas Bernard.

Sanggabuana Bukan Sekadar Jalur Migrasi

Temuan tersebut sekaligus memperkuat dugaan bahwa Pegunungan Sanggabuana bukan sekadar menjadi lokasi persinggahan atau jalur perlintasan burung pemangsa yang bermigrasi.

Kawasan tersebut juga berfungsi sebagai habitat untuk berkembang biak bagi avifauna yang memiliki nilai penting bagi konservasi.

Atas dasar itu, Bernard menilai lokasi yang terdapat sarang Sikep Madu Asia maupun jenis raptor lainnya perlu mendapatkan perlindungan lebih ketat.

“Idealnya petak yang terdapat sarang Sikep Madu Asia dan jenis raptor lain segera berubah menjadi zona perlindungan atau zona inti,” katanya.

Menurutnya, perlindungan tersebut penting agar tidak terjadi alih fungsi lahan hutan maupun pembangunan jalur wisata secara masif di sekitar lokasi pohon yang menjadi tempat bersarang.

Berpeluang Jadi Objek Penelitian Ornithologi

Selain memiliki nilai konservasi, keberadaan OHB ras Jawa yang berhasil didokumentasikan berkembang biak juga membuka peluang penelitian lebih lanjut.

Bernard menyebut temuan tersebut dapat menjadi momentum bagi pengembangan penelitian ornithologi, khususnya untuk mempelajari perilaku, reproduksi dan ekologi OHB ras Jawa.

“Juga menjadi peluang penelitian atau riset ornithologi. Karena ini merupakan temuan pertama dengan bukti visual. Jurnal perilaku alami OHB ras Jawa secara lengkap juga belum ada,” tuturnya.

Anak OHB yang telah menetas tersebut kini diharapkan dapat tumbuh dengan baik, terbang bebas dan nantinya kembali berkembang biak di kawasan Pegunungan Sanggabuana.

Temuan ini sekaligus menjadi pesan penting bahwa kelestarian hutan bukan hanya menjaga tutupan vegetasi, tetapi juga mempertahankan fungsi ekologis kawasan sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk burung pemangsa yang berkembang biak di dalamnya.

(LK)

Berita Terkait

BPD Kutaampel Laporkan Kades ke Polisi, Pengelolaan Anggaran Desa 2025 Dipersoalkan
Hari Tani Nasional, PPTK dan SETAKAR Desak Pemblokiran SHGB Perusahaan di Kawasan Hutan KIIC
Tiga RSUD Karawang Raih Terbaik I Helaran Budaya, Bukti Kekompakan Layanan Publik
Diduga Kain Tampon Tertinggal di Rongga Hidung Pasien, Kuasa Hukum Soroti Penanganan RS Citra Sari Husada dan Minta DPRD Karawang Turun Tangan
Diduga Ada Mark-Up Anggaran Rehabilitasi SDN Solokan I Pakisjaya, Proyek Rp327 Juta Disorot
Warga Mulyajaya Soroti Aset dan Dana Desa Rp190 Juta, Inspektorat Diminta Tegak Lurus
Lebih Praktis! TANGKAR Resmi Jadi SuperApp untuk Semua Layanan Publik Karawang
Optimalkan Kolaborasi, DPRD dan Pemkab Karawang Gelar Paripurna Istimewa HUT ke-393
Berita ini 0 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:45

DPRD Karawang Terima Aspirasi Pedagang Pasar Telagasari, Revitalisasi Diminta Ditunda

Senin, 5 Oktober 2026 - 05:11

2.251 Anggota BPD Karawang Dilantik, Masa Keanggotaan 2026–2034

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:14

Berat Badan Capai 160 Kg, Rivaldy Terbaring Tak Berdaya, Pemkab Karawang Turun Tangan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 04:06

Hadapi Kemarau Panjang, Pemkab Karawang Gelar Salat Istisqa dan Perkuat Penanganan Krisis Air

Kamis, 1 Oktober 2026 - 05:50

Bukan Sekadar Simbol Sejarah, Paguyuban Tugu Kebulatan Tekad Buktikan Perawatan Nyata Sejak 2019

Rabu, 30 September 2026 - 12:57

Gebyar Paten Kutawaluya Hadirkan Layanan Publik dan Bantuan Sosial bagi Warga

Rabu, 30 September 2026 - 05:50

Dua Bakal Calon Kades Sampalan Lolos Pemeriksaan Administrasi, Ahmad Basuni dan Jaenudin Siap Ikuti Tahapan Selanjutnya

Selasa, 29 September 2026 - 06:32

Ata Saju Bawa Visi “Sabajaya Maju, Aman dan Bermartabat”, Siap Bertarung di Pilkades 2026–2034

Berita Terbaru