Karawang | LintasKarawang.com — Kondisi saluran irigasi sepanjang kurang lebih 5 kilometer yang mengalami penyumbatan berat akibat pertumbuhan gulma air akhirnya mendapat penanganan. Alat berat excavator mulai diterjunkan untuk melakukan pembersihan dan mengangkat gulma yang selama ini menghambat aliran air menuju areal persawahan.
Penyumbatan saluran didominasi eceng gondok, kiyambang, serta berbagai vegetasi air lainnya yang tumbuh secara masif hingga menutup sebagian badan saluran. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air tersendat dan debit air menuju wilayah hilir mengalami penurunan signifikan.
Situasi ini menjadi perhatian serius lantaran sekitar 1.800 hektare areal persawahan bergantung pada kelancaran saluran irigasi tersebut. Terlebih, tanaman padi saat ini berada pada fase tanam sehingga pasokan air sangat dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan tanaman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelumnya, para petani dan masyarakat telah berupaya melakukan pembersihan secara swadaya melalui kerja bakti dan gotong royong. Namun, luasnya area yang mengalami penyumbatan serta pertumbuhan gulma yang cepat membuat upaya manual tidak lagi mampu mengatasi persoalan secara menyeluruh.
Penanganan kemudian dilakukan menggunakan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan dan membuka kembali jalur aliran air.
Camat Kutawaluya Kabupaten Karawang, Karta Wijaya, turut hadir pada hari pertama pelaksanaan pembersihan, Minggu (30/8/2026). Kehadiran Camat Kutawaluya tersebut sekaligus memastikan proses penanganan di lapangan berjalan dan kebutuhan koordinasi antarinstansi dapat dilakukan dengan cepat.
Selain memantau proses pengerjaan, Karta Wijaya juga melakukan koordinasi dengan UPTD Rengasdengklok Dinas Lingkungan Hidup terkait pengangkutan gulma yang telah diangkat dari saluran. Pihak UPTD DLH disebut menyiapkan truk pengangkutan agar tumpukan gulma tidak kembali mengganggu saluran maupun lingkungan sekitar.
Koordinasi juga dilakukan dengan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karawang guna memastikan penanganan irigasi tersebut dapat mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian dan mencegah dampak yang lebih luas terhadap tanaman padi.
Langkah cepat tersebut dinilai penting karena apabila gangguan pasokan air berlangsung terlalu lama, tanaman padi berpotensi mengalami stres air yang dapat berujung pada penurunan produktivitas, kerusakan tanaman, bahkan ancaman gagal panen atau puso.
Para petani berharap normalisasi tidak berhenti pada pengangkatan gulma saja. Diperlukan pengerukan material penghambat aliran, penanganan titik pendangkalan serta pemeliharaan saluran secara berkala agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Dengan mulai diturunkannya alat berat, masyarakat berharap jalur irigasi sepanjang kurang lebih 5 kilometer tersebut dapat segera kembali berfungsi normal sehingga distribusi air ke wilayah hilir dan sekitar 1.800 hektare sawah dapat terselamatkan.
Petani pun berharap pemerintah tidak menunggu hingga tanaman mengalami kerusakan. Sebab, bagi petani, keterlambatan penanganan irigasi bukan sekadar persoalan saluran tersumbat, tetapi menyangkut keberlangsungan musim tanam dan sumber penghidupan masyarakat.
(LK)













Tinggalkan Balasan