Karawang, Lintaskarawang.com – Potret kemiskinan masih membayangi sejumlah warga di Kabupaten Karawang. Salah satunya adalah Ibu Rohana (60), warga Dusun Bojongkarya 1 RT 01 RW 01, Desa Rengasdengklok Selatan, Kecamatan Rengasdengklok, yang hidup dalam keterbatasan bersama keluarganya di rumah tak layak huni.
Rumah yang ia tempati bersama suami dan tiga orang anaknya sangat memprihatinkan. Bangunannya didominasi material papan yang sudah lapuk, atap bocor saat hujan, serta dapur seadanya yang nyaris tak memenuhi standar kelayakan. Di tengah kondisi tersebut, salah satu anak mereka bahkan mengidap penyakit stroke dan membutuhkan perawatan serta perhatian lebih.
Suami Rohana hanya bekerja serabutan dengan penghasilan harian sekitar Rp20 ribu. Jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk memperbaiki rumah atau biaya pengobatan anaknya. Meski begitu, pasangan ini tetap berusaha tegar dan bersyukur atas apa yang mereka miliki.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, di balik ketegaran itu, terpancar kekecewaan mendalam. Program Rumah Tinggal Layak Huni (Rutilahu) yang digembar-gemborkan pemerintah justru belum menyentuh mereka. Padahal, menurut penuturan Rohana, rumahnya sudah pernah disurvei pihak RT setempat.
“Waktu itu, di survei oleh Pak RT, katanya saya dapat bantuan Rutilahu. Tapi sampai sekarang tidak pernah ada kabar,” ungkap Rohana dengan nada lirih, Selasa (23/07/2025).
Rohana menuturkan, saat itu dirinya sempat berharap besar setelah mendapatkan informasi bahwa rumahnya masuk dalam daftar penerima program bantuan. Namun, bertahun-tahun berlalu, tidak ada kejelasan ataupun bantuan nyata yang diterima.
Kondisi semakin menyedihkan karena beban hidup bertambah berat akibat sakit yang diderita oleh anaknya. Di tengah kondisi rumah yang tak layak dan penghasilan yang minim, keluarga ini nyaris kehilangan harapan.
“Saya cuma ingin punya tempat tinggal yang lebih aman dan layak buat anak-anak, apalagi satu anak saya kena stroke. Saya mohon ada perhatian dari pemerintah,” ujar Rohana sambil menahan air mata.
Kisah Rohana menjadi tamparan bagi semua pihak yang terlibat dalam pendataan dan penyaluran bantuan sosial. Diperlukan evaluasi serius agar program Rutilahu benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan, bukan sekadar formalitas di atas kertas. (D’Kasur)



















