KIM Disorot, H. Surono: Jangan Balik Narasi, Kritik Masyarakat Harus Dijawab

- Penulis

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:16

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum Garda Wisesa Nusantara, H. Surono.

Ketua Umum Garda Wisesa Nusantara, H. Surono.

Karawang | Lintaskarawang.com — Pernyataan pengelola Kawasan Industri Mitra (KIM) Kabupaten Karawang dalam forum Komisi VII DPR RI yang mengaitkan tingginya permintaan audiensi organisasi kemasyarakatan (ormas) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dengan persoalan keamanan serta potensi terganggunya investasi mendapat kritik tajam dari Ketua Umum Garda Wisesa Nusantara, H. Surono.

Surono menilai, narasi tersebut berpotensi membangun persepsi negatif terhadap keberadaan ormas dan LSM apabila tidak disertai penjelasan yang konkret mengenai siapa pihak yang dimaksud, bentuk gangguan yang terjadi, serta bukti dan data yang mendasarinya.

Menurutnya, permintaan audiensi tidak dapat secara otomatis dikategorikan sebagai gangguan keamanan ataupun ancaman terhadap investasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau ada pihak yang melakukan tindakan melawan hukum, silakan diproses sesuai hukum. Tetapi jangan kemudian aktivitas seluruh ormas dan LSM digeneralisasi sebagai sumber gangguan keamanan atau penghambat investasi,” tegas Surono. Kamis (8/10/2026).

JANGAN BALIK NARASI, KRITIK HARUS DIJAWAB

Surono mengatakan, kawasan industri yang beroperasi di tengah masyarakat justru harus memiliki mekanisme komunikasi yang terbuka dengan berbagai elemen masyarakat.

Menurutnya, permintaan audiensi merupakan salah satu bentuk penyampaian aspirasi yang semestinya dapat diterima sebagai bagian dari kontrol sosial.

Ia mempertanyakan apabila tingginya permintaan audiensi justru dijadikan indikator adanya gangguan terhadap investasi.

“Pertanyaannya sederhana, kenapa banyak pihak ingin audiensi? Apakah semuanya datang tanpa alasan? Kalau ada persoalan yang dipersoalkan masyarakat, seharusnya dijawab secara terbuka, bukan justru narasinya diarahkan seolah-olah ormas dan LSM adalah masalah,” ujarnya.

Surono menegaskan, investasi memang membutuhkan keamanan dan kepastian usaha. Namun kepastian tersebut tidak boleh dimaknai sebagai bebas dari kritik maupun pengawasan masyarakat.

ORMAS DAN LSM BUKAN MUSUH INVESTASI

Menurut Surono, keberadaan ormas dan LSM merupakan bagian dari dinamika masyarakat sekaligus salah satu instrumen kontrol sosial.

Berbagai persoalan yang menyangkut perusahaan, mulai dari lingkungan hidup, tenaga kerja, pengelolaan limbah, penggunaan infrastruktur, CSR, hingga hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar, menurutnya wajar menjadi perhatian publik.

“Jangan alergi terhadap kritik. Perusahaan yang tata kelolanya baik justru harus siap dikritik dan siap memberikan penjelasan. Kalau semuanya transparan, saya kira tidak perlu takut dengan audiensi,” katanya.

Ia juga meminta agar dibedakan secara jelas antara organisasi masyarakat dengan oknum yang melakukan pelanggaran hukum.

Jika terdapat tindakan intimidasi, pemaksaan, pungutan liar atau perbuatan pidana lainnya, menurut Surono, aparat penegak hukum memiliki kewenangan untuk menindak berdasarkan bukti.

“Kalau ada oknum, sebut oknumnya. Kalau ada organisasi tertentu, sebut organisasinya. Jangan semua ormas dan LSM diseret dalam satu stigma,” tegasnya.

Baca Juga:  Rapimnas DEKOPIN 2025 Resmi Dibuka, Mendorong Koperasi sebagai Kekuatan Ekonomi Modern

KIM DIMINTA BUKA DATA DAN DASAR PENGADUAN

Surono juga meminta pengelola KIM menjelaskan secara terbuka materi yang disampaikan kepada DPR RI.

Ia mempertanyakan dasar kesimpulan bahwa tingginya permintaan audiensi dari ormas dan LSM memiliki hubungan dengan gangguan keamanan maupun terhambatnya investasi.

“Buka saja datanya. Berapa jumlah audiensi, siapa yang datang, apa tuntutannya, mana yang dianggap mengganggu keamanan, dan mana yang benar-benar menghambat investasi. Jangan berhenti pada narasi,” ujarnya.

Menurutnya, keterbukaan data justru akan membuat persoalan menjadi lebih terang dan mencegah berkembangnya persepsi liar di tengah masyarakat.

INVESTASI PENTING, TAPI MASYARAKAT JUGA PUNYA HAK

Surono menegaskan Garda Wisesa Nusantara tidak berada pada posisi menolak investasi.

Sebaliknya, investasi dinilai penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Namun, investasi harus berjalan beriringan dengan kepatuhan terhadap hukum, perlindungan lingkungan, penghormatan terhadap masyarakat serta keterbukaan terhadap kontrol publik.

“Tidak ada yang menolak investasi. Yang kami persoalkan adalah kalau kritik masyarakat kemudian dianggap sebagai ancaman. Investasi silakan jalan, tetapi kontrol sosial juga harus hidup,” katanya.

Ia menilai hubungan yang sehat antara kawasan industri dengan masyarakat tidak dibangun dengan membatasi kritik, melainkan melalui komunikasi dan penyelesaian persoalan secara terbuka.

JANGAN SAMPAI KRITIK DIANGGAP GANGGUAN KEAMANAN

Surono mengingatkan agar jangan sampai muncul pola bahwa setiap permintaan audiensi atau kritik terhadap perusahaan kemudian dianggap sebagai persoalan keamanan.

Menurutnya, cara pandang seperti itu justru dapat memperlebar jarak antara perusahaan dengan masyarakat.

“Kalau ada persoalan, duduk bersama. Kalau ada tuduhan, klarifikasi. Kalau ada pelanggaran hukum, proses. Jangan kritik masyarakat dibalas dengan stigma,” tegasnya.

Ia pun membuka ruang dialog dengan pengelola KIM apabila pihak kawasan bersedia menjelaskan secara terbuka persoalan yang menjadi dasar penyampaian keluhan kepada DPR RI.

“Garda Wisesa Nusantara siap berdialog. Kita ingin persoalan ini jelas dan tidak menimbulkan salah persepsi. KIM silakan menjelaskan secara terbuka apa masalahnya, siapa yang dianggap mengganggu, serta apa buktinya,” pungkas Surono.

Menurutnya, keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari sejauh mana keberadaan industri mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar.

Investasi membutuhkan kepastian. Masyarakat membutuhkan keadilan. Dan keduanya dapat berjalan bersama apabila komunikasi, transparansi, serta kontrol sosial tetap dihormati.

(LK)

Berita Terkait

Ketum BARAK Indonesia Tantang KIM Buka Data: Jangan Asal Kaitkan Ormas dengan Gangguan Investasi
Ketum Banaspati Minta KIM Tak Cap Ormas dan LSM sebagai Gangguan Investasi
KIM Dikritik KOMPAK: Kritik Masyarakat Jangan Dicap Gangguan Keamanan
Laskar Merah Putih Kritik KIM: Jangan Stigmatisasi Ormas sebagai Pengganggu Investasi
Fajar Try Suari Kritik Narasi KIM: Audiensi Ormas dan LSM Tak Bisa Serta-Merta Dikategorikan Gangguan Investasi
Kunjungan Panja DPR RI Dituding Bersifat Sepihak: Pengamat Sebut Keluhan Kawasan Industri Karawang Kaburkan Akar Masalah Lingkungan dan Hak Warga Lokal
BPPKB Banten Karawang Sentil KIM: Jangan Jadikan Investasi Alasan Membungkam Kritik
Sekjen DPP GMPI Kritik Keras KIM Karawang: Jangan Jadikan Isu Investasi untuk Membungkam Kontrol Sosial
Berita ini 0 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:30

Ketum BARAK Indonesia Tantang KIM Buka Data: Jangan Asal Kaitkan Ormas dengan Gangguan Investasi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:23

Ketum Banaspati Minta KIM Tak Cap Ormas dan LSM sebagai Gangguan Investasi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:43

Laskar Merah Putih Kritik KIM: Jangan Stigmatisasi Ormas sebagai Pengganggu Investasi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:29

Fajar Try Suari Kritik Narasi KIM: Audiensi Ormas dan LSM Tak Bisa Serta-Merta Dikategorikan Gangguan Investasi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:16

KIM Disorot, H. Surono: Jangan Balik Narasi, Kritik Masyarakat Harus Dijawab

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:07

Kunjungan Panja DPR RI Dituding Bersifat Sepihak: Pengamat Sebut Keluhan Kawasan Industri Karawang Kaburkan Akar Masalah Lingkungan dan Hak Warga Lokal

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:53

BPPKB Banten Karawang Sentil KIM: Jangan Jadikan Investasi Alasan Membungkam Kritik

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:46

Sekjen DPP GMPI Kritik Keras KIM Karawang: Jangan Jadikan Isu Investasi untuk Membungkam Kontrol Sosial

Berita Terbaru