Perjuangan Hak Pendidikan Anak Kurang Mampu di Karawang: Menembus Batas Birokrasi demi Masa Depan Karmila

- Penulis

Rabu, 5 Agustus 2026 - 09:53

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karawang | Lintaskarawang.comq – Di balik senyum polos seorang anak perempuan berusia 11 tahun bernama Karmila, tersimpan harapan sederhana yang seharusnya menjadi hak setiap anak Indonesia: kembali duduk di bangku sekolah. Namun impian itu harus berhadapan dengan realitas pahit berupa keterbatasan ekonomi keluarga dan rumitnya birokrasi administrasi pendidikan.

Kisah Karmila mencuat setelah mendapat pendampingan dari penggiat seni, budaya, dan sosial, Cucu Hidayat atau yang akrab disapa Kang Cucu. Selama dua hari terakhir, ia berupaya mengawal agar Karmila dapat kembali mengenyam pendidikan formal di Kabupaten Karawang.

Perjuangan itu bermula dari sebuah pertemuan yang tak direncanakan. Saat mengantarkan makanan untuk ayahnya yang bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu perumahan, Karmila ditanya mengapa tidak bersekolah. Dengan suara lirih ia menjawab, “Saya pengen sekolah lagi, Pak.”

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalimat sederhana itu menjadi titik awal perjuangan untuk mengembalikan hak pendidikan yang sempat terputus akibat persoalan ekonomi dan perubahan kondisi keluarga.

Sebelumnya, Karmila bersekolah di wilayah tempat tinggal ibunya. Namun, kesulitan ekonomi membuat pendidikannya terhenti. Situasi semakin rumit ketika sang ibu bersiap bekerja ke luar negeri, sementara ayahnya berpindah domisili karena pekerjaan. Di tengah kondisi tersebut, Karmila memilih tinggal bersama neneknya dan berharap bisa kembali bersekolah di lingkungan tempat tinggal barunya.

Berbekal niat membantu, Kang Cucu bersama pihak terkait mendatangi sekolah dan berkonsultasi ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Karawang. Tujuannya agar Karmila dapat diterima kembali di sekolah dasar negeri melalui jalur yang memungkinkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Namun, hasil konsultasi belum sesuai harapan. Solusi yang diberikan adalah mengarahkan Karmila mengikuti pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Bagi pendamping, PKBM merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran penting bagi masyarakat. Akan tetapi, menurutnya, untuk anak usia sekolah dasar yang masih memiliki semangat belajar di sekolah formal, pilihan tersebut seharusnya menjadi alternatif terakhir, bukan solusi utama ketika masih terdapat peluang kebijakan lain.

Baca Juga:  Dr. Mayasari S. S. M. Hum Resmi dilantik Menjadi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Singaperbangsa

Menurut Kang Cucu, pendidikan formal bukan sekadar mengejar ijazah, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk tumbuh, bersosialisasi, membangun karakter, serta memperoleh pengalaman belajar bersama teman-teman seusianya.

Ia menilai pemerintah daerah sebenarnya memiliki ruang kebijakan untuk menangani kasus seperti ini, mulai dari jalur afirmasi bagi keluarga kurang mampu, mekanisme perpindahan domisili peserta didik, hingga penanganan khusus bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) agar dapat kembali ke jalur pendidikan formal.

Langkah-langkah tersebut dinilai dapat menjadi solusi bagi anak-anak yang kehilangan kesempatan belajar akibat persoalan sosial maupun ekonomi, tanpa harus langsung diarahkan ke pendidikan nonformal.

Kasus Karmila menjadi potret bahwa masih ada anak-anak yang harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan hak dasar yang dijamin konstitusi. Padahal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan.

Melalui kisah ini, Kang Cucu berharap seluruh pemangku kepentingan, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karawang, dapat menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Bukan soal melanggar aturan, tetapi bagaimana aturan itu dapat dijalankan dengan tetap mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Negara harus hadir memberikan solusi yang manusiawi agar tidak ada lagi anak yang kehilangan masa depan hanya karena terbentur administrasi,” ujarnya Pada,Rabu (05/08/2026).

Perjuangan Karmila hari ini mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah serupa yang belum terungkap. Namun, apabila ada keberpihakan dan kolaborasi semua pihak, harapan seorang anak untuk kembali mengenakan seragam sekolah bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.

Penulis : Wahid

Berita Terkait

Tiga RSUD Karawang Raih Terbaik I Helaran Budaya, Bukti Kekompakan Layanan Publik
Diduga Kain Tampon Tertinggal di Rongga Hidung Pasien, Kuasa Hukum Soroti Penanganan RS Citra Sari Husada dan Minta DPRD Karawang Turun Tangan
Diduga Ada Mark-Up Anggaran Rehabilitasi SDN Solokan I Pakisjaya, Proyek Rp327 Juta Disorot
Warga Mulyajaya Soroti Aset dan Dana Desa Rp190 Juta, Inspektorat Diminta Tegak Lurus
Lebih Praktis! TANGKAR Resmi Jadi SuperApp untuk Semua Layanan Publik Karawang
Wakil Abo Bongkar Polemik Beras Bapanas di Rengasdengklok Selatan: Beras 90 karung di GOR, Warga Mengaku Belum Kebagian
Sungai Perbatasan Cilamaya–Ciasem Dikeluhkan Berbau Menyengat, Warga Minta DLHK Turun Tangan
Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Proyek Jalan Poros Tanjung Mekar Rp189 Juta Disorot Warga
Berita ini 0 kali dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 09:33

Pipik Taufik Ismail Serap Aspirasi Driver Ambulans Desa Karawang Utara, Siap Perjuangkan Payung Hukum dan Legalitas Resmi

Senin, 21 September 2026 - 06:25

Apel Pagi Pemkab Karawang, Bupati Tutup Rangkaian Hari Jadi ke-393 dan Sekda Soroti Penyerapan Anggaran Triwulan III

Senin, 21 September 2026 - 06:18

HUT Karawang ke-393 Ditutup Meriah, Ribuan Warga Padati Hareudang Fest dan Bergoyang Bersama Ade Astrid

Senin, 21 September 2026 - 06:15

Bupati Aep Resmikan Jembatan Harmoni Mas, Permudah Akses dan Dongkrak Mobilitas Warga Telukjambe Timur

Senin, 21 September 2026 - 06:13

Perkuat Toleransi, Pemkab Karawang Gelar “Bupati Menyapa” dan Deklarasi Harmoni Nusantara Sambut HUT Karawang ke-393

Senin, 21 September 2026 - 06:08

ORARI Semarakkan Hari Jadi Karawang ke-393, Bupati Aep: Terus Hadir Saat Masyarakat Membutuhkan

Senin, 21 September 2026 - 06:05

Bupati Aep Tegaskan Grand Final Mojang Jajaka Karawang 2026 Bebas Intervensi, Penilaian Murni Berdasarkan Potensi

Senin, 21 September 2026 - 05:55

Pemkab Karawang Gelar Lomba Cipta Menu B2SA, Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal untuk Gizi Keluarga

Berita Terbaru