Karawang | Lintaskarawang.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Karyasari, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, berlangsung penuh suasana religius, Selasa (29/09/2026) malam. Dalam tabligh akbar tersebut, penceramah KH Nana Gerhana dari Bandung mengajak jamaah tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui alam dan kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan KH Nana Gerhana saat memberikan tausiah di Lapangan GB PKK 5, Desa Karyasari. Ia menekankan bahwa membaca Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti pada kemampuan melafalkan ayat, tetapi juga harus tercermin dalam sikap, akhlak, dan perilaku sehari-hari.
Menurut KH Nana Gerhana, manusia harus menyadari bahwa dirinya memiliki kekurangan dan tidak luput dari kesalahan. Karena itu, ia mengingatkan jamaah agar tidak mudah mencela atau menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dilakukan sesama manusia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Geura urang sadar yén urang téh manusa. Ngaran-ngaran manusa, bener waé lain malaikat, salah waé lain setan. Bener salah pada boga,” ujar KH Nana Gerhana dalam ceramahnya.
Ia kemudian mengaitkan pentingnya ilmu dengan perintah membaca. Menurutnya, umat Islam perlu memahami bahwa terdapat dua hal yang harus dipelajari, yakni kitabullah berupa Al-Qur’an dan ayat-ayat Allah yang tercipta melalui alam semesta.
“Lamun jalma butuh ilmu, maka Allah remodal ‘Iqra’. Ari ‘Iqra’ téh baca. Naon nu kudu dibaca? Dua ayat Allah nu berbeda. Hiji, kitabullah ngaranna Qur’an. Dua, ayat Allah nu tercipta ngaranna alam dunya,” tuturnya.
KH Nana Gerhana menilai kemampuan membaca Al-Qur’an perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami kondisi alam dan kehidupan. Ia menggambarkan bagaimana manusia dapat menemukan berbagai ilmu dan manfaat apabila mampu mengamati serta memahami apa yang terjadi di sekelilingnya.
“Pék pinter maca Qur’an, ngan hadé kudu pinter maca alam. Ulah pinter maca Qur’an, maca alam teu pati bisa,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan kritik terhadap perilaku sebagian orang yang rajin membaca Al-Qur’an, tetapi masih gemar mencela, menghina, atau merendahkan orang lain. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa nilai Al-Qur’an belum sepenuhnya masuk ke dalam hati dan akhlak seseorang.
Ia kemudian memperkenalkan tiga fungsi Al-Qur’an yang dirangkumnya dengan istilah “ukur, ukir, akur.” Al-Qur’an, kata dia, pertama harus menjadi alat ukur untuk menilai diri sendiri, kemudian menjadi alat ukir untuk membentuk ucapan dan perilaku, serta menjadi alat untuk membangun kerukunan dengan sesama.
“Qur’an jadi alat ukur, ukur kana dirina. Qur’an jadi alat ukir, ukir bahasana ulah nyigeung batur, ngahina batur, ngaledek batur. Sehingga Qur’an jadi alat akur,” ungkapnya.
Ia menegaskan, membaca Al-Qur’an tidak seharusnya hanya terlihat dari aktivitas membaca secara lisan. Lebih jauh, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus tercermin melalui akhlak dan hubungan sosial.
“Lakon maca Qur’an, lakon ogé ngaledek baturna, lakon maca Qur’an, lakon ogé ngaragragkeun derajat baturna. Lakon Qur’an sebatas biwirna, can lakon ku hate jeung akhlakna,” ujarnya.
KH Nana Gerhana selanjutnya mengajak jamaah memahami makna Al-Fatihah sebagai pembukaan. Menurutnya, sebelum membuka dan membaca Al-Qur’an, manusia perlu terlebih dahulu membuka hati agar pesan yang dibaca dapat diterima dan diamalkan dalam kehidupan.
“Saméméh buka Qur’an, geura buka heula hate. Ngarah buka Qur’an, Qur’an asup kana hate,” katanya.
Tabligh akbar tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Pemerintah Desa Karyasari bersama Pengajian Al-Hidayah. Kegiatan diikuti masyarakat dari berbagai dusun, khususnya ibu-ibu majelis taklim se-Desa Karyasari.
Melalui tausiah tersebut, KH Nana Gerhana mengajak jamaah menjadikan momentum Maulid Nabi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, membuka hati, memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an, serta menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan bermasyarakat.
Penulis : Apih Kasur
Penyunting : Wahid













Tinggalkan Balasan