Karawang | Lintaskarawang.com – Sejumlah warga di Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, mengeluhkan kondisi sepeda motor mereka setelah mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah tersebut, Pada (09/10/26).
Mereka mengaku sepeda motor yang sebelumnya dapat digunakan normal mengalami gangguan setelah pengisian BBM dan sejumlah kendaraan disebut mengeluarkan asap, bahkan ada yang tidak dapat dihidupkan kembali hingga harus dibawa ke bengkel.
Seorang pemilik bengkel di wilayah Payungsari, Kecamatan Pedes, mengatakan beberapa sepeda motor yang dibawa ke tempatnya mengalami masalah setelah pemiliknya mengisi Pertalite di SPBU Pedes.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut keterangan pemilik bengkel tersebut, BBM yang berada di dalam tangki kendaraan tercium seperti solar sehingga ia memutuskan mengurasnya dan mengganti dengan bahan bakar baru jenis Pertamax.
“Motor-motor yang dibawa ke sini katanya mati setelah mengisi Pertalite di pom bensin Pedes, pertalite tersebut seperti berbau solar, sehingga harus dikuras dan diganti dengan bahan bakar yang baru dari Pertamax,” ujar pemilik bengkel saat diwawancarai.
Ia berharap ada pertanggungjawaban atau kompensasi bagi warga yang kendaraannya mengalami kerusakan dan harus mengeluarkan biaya perbaikan.
“Harapannya ada ganti rugi, karena kasihan yang punya kendaraan,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan seorang perempuan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, ia mengaku sepeda motornya tidak dapat dihidupkan kembali setelah tiba di rumah usai mengisi Pertalite di SPBU tersebut.
Ditempat yang berbeda, saat dikonfirmasi Indra selaku pengawas SPBU Pedes mengatakan pihaknya baru saja menerima pemeriksaan dari petugas Pertamina terkait pengujian density atau massa jenis BBM.
“Barusan juga ada orang Pertamina ngecek ke sini di density, mungkin mudah-mudahan untuk ke depannya tidak terjadi lagi hal seperti ini,” kata Indra.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat setempat atas kejadian yang dikeluhkan warga tersebut.
“Kami minta maaf kepada masyarakat setempat. Alhamdulillah, kami juga bongkar sesuai SOP,” ujarnya.
Indra menjelaskan, pihak SPBU telah memberikan kompensasi kepada sejumlah konsumen yang datang menyampaikan keluhan. Menurut dia, bentuk kompensasi disesuaikan dengan kondisi dan rincian biaya yang disampaikan konsumen.
“Kalau motornya ngebul, alhamdulillah ada kompensasi dari kami. Istilahnya tidak rata, ada yang habis bongkar Rp30 ribu kita kasih Rp50 ribu, ada juga yang ngasih rinciannya kita kasih, ada yang minta BBM nya diganti dari Pertalite beralih ke Pertamax, ya mangga kita kasih,” tuturnya.
Indra menyebut sekitar lima pemilik sepeda motor telah datang ke SPBU untuk meminta kompensasi terkait kejadian tersebut.
Namun, ia mengatakan pelayanan kompensasi itu hanya berlaku sampai 09 Oktober 2026.
“Adapun yang telah datang meminta ganti rugi ke sini ada sekitar lima motor, tapi besok, 10 Oktober, sudah tidak berlaku,” katanya.
Pemeriksaan density yang disebut telah dilakukan petugas Pertamina menjadi salah satu hal yang perlu ditindaklanjuti dengan penjelasan mengenai hasil pengujian.
Namun, hasil pemeriksaan tersebut belum disampaikan dalam keterangan yang diterima media ini.
Untuk memastikan penyebab gangguan kendaraan, diperlukan pemeriksaan kualitas BBM serta pengecekan teknis terhadap sepeda motor yang terdampak. Dengan demikian, dapat diketahui apakah gangguan tersebut berkaitan dengan kualitas BBM atau faktor teknis lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan, penyebab pasti gangguan sejumlah sepeda motor tersebut belum dapat dipastikan berdasarkan keterangan yang tersedia.
Kini publik menanti hasil pemeriksaan resmi dari pihak Pertamina untuk menjawab keluhan warga Kecamatan Pedes secara menyeluruh.
Reporter: Nay
Penyunting: Aan Ade Warino













Tinggalkan Balasan