Komunitas Virtual di Era Media Sosial dan Peranannya Dalam Masyarakat

Komunitas Virtual di Era Media Sosial dan Peranannya Dalam Masyarakat

Ilustrasi komunitas virtual/source pinterest

Karawang, Lintas_Karawang.Com Pemanfaatan teknologi komunikasi di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pengguna media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube dan TikTok sangat melonjak tajam.

Menurut data dari We Are Social menunjukkan bahwa jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 191,4 juta pada bulan Januari 2022. Dan meningkat 21 juta atau 12,6 persen dari tahun 2021. Sedangkan data pengguna Facebook di Indonesia mencapai 129,9 juta pada awal 2022 dan jumlah pengguna media sosial Instagram mencapai 99,15 juta dan disusul pengguna media sosial lainnya yang tak kalah banyaknya.

Hal ini sedikit banyak menunjukkan bahwa orang Indonesia gemar untuk berinteraksi dan berteman di media sosial. Dari interaksi-interaksi yang intens antar sesama pengguna media sosial, dan jika diantara penggunanya tersebut memiliki kesamaan entah itu kesamaan hobi, profesi, daerah, bahkan kesamaan fans club bola tertentu, maka akan terciptalah komunitas-komunitas virtual.

Pertumbuhan komunitas virtual menjadi salah satu fenomena yang menarik pada abad ini, terutama di Indonesia. Apalagi ditengah adanya pandemi virus covid-19 yang telah melanda hampir 3 tahun belakangan ini.

Dalam beberapa komunitas online, biasanya masing-masing anggota komunitas mampu menciptakan kembali diri, lingkungan, situasi dan masyarakatnya, sehingga membuat lingkungan maya ini seperti representasi dunia nyata.

Sebagaimana disampaikan Innis dalam Rivers and Peterson (2008 : 35) bahwa berbagai media komunikasi yang ada telah mempengaruhi bentuk-bentuk organisasi sosial, yang berarti media juga mempengaruhi jenis-jenis asosiasi manusia yang berkembang. Sehingga perkembangan bentuk kelompok, komunitas atau organisasi di dalam masyarakat saat ini juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan media baru.

Pietter Lidyan atau yang dikenal sebagai pemimpin Facebook Indonesia pernah berkata “Komunitas online tumbuh dimasa pandemi” dikarenakan dimasa pandemi masyarakat dianjurkan untuk tidak terlalu banyak interaksi secara langsung apalagi berkerumun karena sangat beresiko terpapar virus covid-19, hal ini menyebabkan kegiatan yang melalui media internet sangat meningkat drastis.

Perkembangan komunitas virtual saat ini sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan Internet yang sangat pesat. Keadaan tersebut dimanfaatkan banyak kelompok membentuk komunitas virtual secara masif. Banyaknya komunitas virtual yang muncul merupakan suatu trend yang memungkinkan manusia berkegiatan di ruang virtual bersama.

Komunitas virtual yang saat ini mengalami ledakan adalah komunitas berbasis media sosial, yaitu berbasis aplikasi yang ada pada smartphone. Media sosial mampu mendukung keinginan penggunanya untuk berinteraksi secara langsung (realtime) dengan anggota komunitas yang lain. Aplikasi populer yang sering dimanfaatkan oleh komunitas virtual adalah Facebook, Twitter, TikTok, Instagram, WhatsApp dan lain-lain.

Dimedia sosial siapapun bisa membuat dan menyebarkan informasi. Namun sepenting apapun informasi itu jika disuarakan oleh satu orang tentu saja gaungnya tidak akan terdengar. Disinilah peran komunitas virtual diperlukan.

Suatu informasi bila disuarakan dan disebarkan secara bersama-sama oleh komunitas virtual tentu gaungnya akan lebih besar terdengar, bahkan bisa menarik perhatian awak media maupun pemerintah. Apalagi setelah diberitakan oleh awak media maka tentunya informasi tersebut akan lebih diketahui oleh banyak orang.

Komunitas virtual juga dapat membentuk suatu aksi sosial dimasyarakat. Aksi-aksi sosial yang dilakukan oleh komunitas virtual ini pada umunya merupakan kegiatan positif yang bertujuan untuk membuat suatu perubahan yang lebih baik dilingkungan masyarakat. Beberapa contoh aksi yang dilakukan oleh komunitas virtual seperti : aksi komunitas Ojek Online di Karawang pada tahun 2020 yang menggalang dana untuk korban banjir, aksi anti bullying yang dilakukan oleh komunitas virtual For Children Foundation dengan mengkampanyekan #BullyItuJahat untuk mengenalkan kesadaran bahaya dari bullying.

Sosial media yang digunakan oleh komunitas virtual saat ini juga bisa menjadi kekuatan yang dahsyat melawan ketidakadilan, penyimpangan, kesewenang-wenangan hukum dan pemerintah yang berkuasa. Seperti pada kasus demo mahasiswa pada tahun 2019 misalnya. Muculnya tagar #GejayanMemanggil dan #MahasiswaBergerak yang dalam waktu singkat tagar tersebut berkembang menjadi seruan aksi yang bisa mengumpulkan massa dalam jumlah yang cukup banyak.

Media sosial dan aksi demonstrasi saat ini memang mempunyai hubungan yang dekat. Hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi hal serupa juga terjadi disejumlah negara lainnya. Seperti yang terjadi tahun 2011 di negara Mesir misalnya. Gerakan ini bermula dari Tagar #Jan25 dan dari cuitan yang terus menerus mendapat dukungan dari Twitter menjadi pemicu dalam aksi revolusi tersebut. Dimana dari cuitan-cuitan dimedia sosial tersebut berbuah aksi turun kejalan dan mendesak presiden Mesir saat itu untuk turun dari jabatannya.

Belajar dari dua kasus diatas, media sosial memberikan ruang untuk kebebasan berbicara dan demokrasi, bahkan berpotensi sebagai alat untuk melakukan perubahan sosial yang terbilang murah menjangkau khalayak dalam jumlah yang banyak dan dengan waktu yang relatif singkat.

Kini kehadiran komunitas virtual dan media sosial merupakan salah satu bentuk peradaban baru dikehidupan manusia. Komunitas virtual menggunakan media sosial sebagai alatnya, tanpa disadari membuat revolusi didalam kehidupan masyarakat, menjadi penggerak perubahan diberbagai bidang, baik sosial, politik, maupun ekonomi. (Ira Nadiya)

error

Selamat Datang di Lintaskarawang.com ? Mohon di Share

RSS500
Follow by Email350
Facebook970
YouTube740
Instagram800
WhatsApp950
error: Dilarang mengcopy Paste !!!