SCF TURUT MENSUPORT SURVEI NASIONAL MACAN TUTUL JAWA

banner 468x60

Lintaskarawang.com – Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan Yayasan SINTAS Indonesia, pada hari Selasa, 27/02/2024 lalu melakukan Kick Of Meeting sebagai tanda dimulainya event nasional “Java-Wide Leopard Survei” (JWLS). Event yang didukung oleh banyak praktisi dan ahli serta lembaga pendidikan dan perusahaan swasta nasional ini bertujuan untuk melakukan survei populasi satwa kunci Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) di Pulau Jawa.

Kegiatan survei populasi macan tutul jawa ini akan dilakukan dengan beberapa pola dan cara. Yang pertama adalah dengan menggunakan kamera jebak atau kamera pengintai (Trap Camera), dan yang kedua adalah dengan cara menganalisa sampel kotoran/fases. Selain survei kamera pengintai, JWLS juga akan mengumpulkan sampel kotoran macan tutul jawa untuk mengetahui struktur populasi macan tutul jawa dan preferensi satwa mangsanya.

Bacaan Lainnya
banner 300x250
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) Dok: SCF
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) Dok: SCF

JWLS yang rencananya akan dilaksanakan selama kurang lebih dua tahun ini merupakan kegiatan kolaboratif survei satwa liar dengan menggunakan kamera pengintai terbesar pertama di Indonesia, baik dalam segi cakupan wilayah, pendanaan, maupun pihak-pihak yang terlibat. Sebanyak kurang lebih 600 unit kamera pengintai akan dipasang oleh delapan tim gabungan survei lapang secara bergantian pada kurang lebih 1.160 stasiun pengamatan di 21 bentang alam yang meliputi 10 taman nasional, 24 Kawasan suaka alam, dan 55 kawasan hutan lainnya, dengan luas wilayah kurang lebih 9.825.523.083 ha. Selain itu, sebanyak kurang lebih 550 sampel kotoran macan tutul jawa menjadi target untuk dikoleksi secara bersamaan dalam survei kamera pengintai.

Kegiatan JWLS akan dilaksanakan seluruhnya menggunakan kapasitas nasional, baik secara teknis, sumberdaya manusia, maupun pendanaan. Secara teknis, disain dan rencana kegiatan JWLS dipersiapkan seluruhnya oleh KLHK bekerjasama dengan para praktisi konservasi karnivora besar Indonesia. Dalam hal sumberdaya manusia, JWLS akan dilaksanakan oleh UPT Ditjen KSDAE-KLHK dan para mitra lokal-nya. Dari sisi pendanaan, JWLS didukung sepenuhnya oleh KLHK dan mitra sektor swasta nasional.

Kegiatan JWLS diharapkan dapat menghasilkan data dasar status populasi dan preferensi satwa mangsa macan tutul jawa yang akurat berdasarkan kaidah ilmiah yang kuat. Data dasar tersebut akan digunakan di dalam kajian kesintasan populasi (population viability analysis) macan tutul jawa dalam rangka pembaharuan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Macan Tutul Jawa. Selain macan tutul jawa sebagai target utama, ini juga akan memperoleh data biodiversitas terrestrial lain dan sebarannya di seluruh habitat satwa liar yang tersisa di Pulau Jawa.

Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Prof. Satyawan Pudyatmoko menyampaikan bahwa, “JWLS ini merupakan survei satwa liar skala nasional kedua terbesar di Indonesia setelah survei harimau sumatera se-Sumatera atau Sumatra-Wide Tiger Survey (SWTS) yang telah selesai dilaksanakan oleh KLHK bersama mitra kerjanya pada tahun 2023 yang lalu.”

Prof. Satyawan menyampaikan lebih lanjut, kegiatan SWTS dan JWLS ini menjadi salah satu bukti nyata komitmen Pemerintah Indonesia dalam menerapkan kaidah-kaidah ilmiah dalam memperkuat pengelolaan satwa liar dan habitatnya di Indonesia. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi bukti komitmen KLHK untuk terus mengupayakan pelibatan dan kerja sama berbagai pihak, termasuk sektor swasta nasional, di dalam kerja-kerja konservasi. Kami berharap kerja sama ini dapat terus ditingkatkan menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Dalam pelaksanaan JWLS ini, Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) salah satu lembaga konservasi yang aktif melakukan penelitian dan pendataan biodiversitas di Pegunungan Sanggabuana di Karawang terlibat aktif dalam pelaksanaan di lapangan. SCF yang juga melakukan rehabilitasi hutan di kawasan Pegunungan Sanggabuana, juga monitoring satwa langka dan satwa prioritas, salah satunya Macan Tutul Jawa di Sanggabuana, setelah selesainya Kick Of Meeting di KLHK langsung meluncur menuju kawasan pemasangan kamera trap di Landscape Pegunungan Burangrang-Tangkuban Parahu dan Gunung Bukit Tunggul-Gunung Canggah.

Bernard T. Wahyu Wiryanta, fotografer dan peneliti satwa liar dari SCF yang ikut dalam kegiatan JWLS ini mewakili SCF mengatakan bahwa JWLS ini adalah hajatan nasional yang sudah dinanti-nanti untuk mendapat data komprehensif terkait macan tutul jawa. Dari kegiatan ini, akan didapat data-data terbaru terkait macan tutul, terutama distribusi atau persebarannya di Pulau Jawa. Bahkan beberapa landscape yang sebelumnya tidak menjadi perhatian ternyata merupakan habitat macan tutul jawa.

“Memang kawasan landscape Pegunungan Sanggabuana tidak masuk dalam kegiatan survei ini, tetapi bersama dengan Yayasan Sintas akan kami lakukan survei populasi tersendiri setelah atau bersamaan dengan kegiatan JWLS ini. Sebelum mengerjakan survey di Sanggabuana, SCF tentu akan mensuport penuh kegiatan JWLS ini, karena top predator yang masih tersisa di Pulau Jawa ini perlu perhatian lebih, terutama perlu dicari data untuk menyusun program konservasinya kedepan. Supaya nasibnya tidak seperti harimau jawa yang sudah punah.” Papar Bernard.

Tim SCF pada event JWLS ini ikut masuk dan memasang kamera trap bersama tim lain yang terdiri dari para akademisi, peneliti, dan ahli serta pemerhati “Javan Leopard” di dalam hutan di Jawa Barat. Hampir semua tim baru selesai melakukan pemasangan kamera trap dan mengumpulkan sampel fases setelah 10 hari masuk kedalam hutan pada awal Maret 2024.

“Dari hasil JWLS ini kedepan tentu akan menjadi rujukan bagi Pemerintah dalam hal ini KLHK dan juga lembaga riset dan lembaga konservasi lain untuk menyusun peta persebaran dan peta kerja untuk upaya perlindungan dan pelestarian macan tutul jawa. Pada kegiatan ini, kami juga mengumpulkan data biodiversitas lain di kedua landscape Burangrang-Tangkuban Parahu dan Gunung Bukit Tunggul – Gunung Canggah.” Tutup Bernard. (Red)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *